Rabu, 19 November 2014

Nokia Kembali Gebrak Pasar dengan Tablet N1

Setelah diberitakan tidak akan memproduksi smartphone lagi setelah diakuisisi oleh raksasa software Microsoft, ternyata Nokia masih mampu membuat gebrakan dengan meluncurkan tablet Nokia N1.
Nokia memang tidak lagi membuat smartphone sesuai kesepakatan pasca akuisisi, namun Nokia masih boleh membuat tablet pintar.
Perangkat N1 ini resmi dirilis setelah Nokia diakuisisi oleh Microsoft sebesar 7,2 Milyar dollar.
Tablet Nokia N1 dibekali dengan prosesor Intel Atom Z3580 2.4GHz quad-core, RAM 2GB, penyimpanan 32GB dan kamera 8MP (belakang) 5MP (depan), dimensi layar 7.9 inci dengan kepadatan resolusi 2048x1536.
Perangkat Nokia terbaru ini menggunakan sistem Android 5.0 (Lollipop) dengan tambahan launcher "Z launcher "
Diperkiarakan Tablet Nokia N1 ini akan mulai dipasarkan pada kuartal pertama 2015 di kawasan Asia. Dengan harga jual sekitar US$250. Cukup murah dan memikat.
Apakah Nokia akan kembali berjaya?

Selasa, 18 November 2014

PTK SMP: PENGGUNAAN KIT MAGNET UNTUK MENINGKATKAN KREATIVITAS DAN HASIL BELAJAR IPA MATERI KEMAGNETAN BAGI PESERTA DIDIK KELAS IX A SMP

PENGGUNAAN KIT MAGNET UNTUK MENINGKATKAN KREATIVITAS DAN HASIL BELAJAR IPA MATERI KEMAGNETAN
BAGI  PESERTA DIDIK  KELAS IX A SMP NEGERI 27 SURAKARTA
SEMESTER I TAHUN 2013/2014


ABSTRAK

Dewi Ganawati Hendrastuti, 19631112 199512 2 003” Penggunaan Kit Magnet Untuk Meningkatkan Kreativitas Dan Hasil Belajar IPA Materi Kemagnetan Bagi  Peserta Didik  Kelas IX A SMP Negeri 27 Surakarta
Semester I Tahun 2013/2014”
Penelitian Tindakan Kelas ini dimaksudkan untuk mendeskripsikan pembelajaran dengan penggunaan Kit magnet yang mampu meningkatkan kreativitas dan hasil belajar IPA materi SK 4. Memahami konsep kemagnetan dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian dilakukan terhadap peserta didik kelas IX A SMP Negeri 27 Surakarta Semester I Tahun pelajaran 2013 /2014 yang berjumlah 26 peserta didik. Data dikumpulkan melalui pengamatan dan tes.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Secara teoritik melalui penggunaan Kit magnet dapat meningkatkan kreativitas dan hasil belajar IPA materi SK 4. Memahami konsep kemagnetan dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. bagi peserta didik kelas IX A SMP Negeri 27 Surakarta Semester I Tahun pelajaran 2013 /2014 dan didukung secara empirik.
Beberapa karakteristik dari penelitian tindakan kelas ini sebagai berikut: (1) sebelum memulai pembelajaran, guru menyampaikan tujuan dan kompetensi yang diharapkan.(2) pembentukan kelompok, satu kelompok maksimal 5 peserta didik (4) pembimbingan tiap kelompok untuk memahami LKS atau petunjuk praktik (5) Setelah peserta didik memulai pengamati Kit magnet, maka bimbingan dihentikan dan semua kreativitas belajar siswa dicatat. 


Kata Kunci: Kreativitas, Hasil Belajar IPA, Magnet.











PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Pada pembelajaran IPA, peneliti melakukan pengamatan terhadap kreativitas peserta didik kelas IX A SMP Negeri 27 Surakarta Semester I Tahun pelajaran 2013 /2014 . Hasil pengamatan yang diperoleh menunjukkan  bahwa kreativitas peserta didik kelas IX A tersebut masih rendah. Hal ini terbukti setiap pembelajaran IPA dari 26 peserta didik hanya 20 prosen yang menunjukkan kreativitas  baik, sedangkan 80 prosen yang lain atau 21 peserta didik yang lain pasif,  ada yang mengantuk ada yang bicara dengan temannya dan ada yang diam tetapi melamun sehingga jika diberi pertanyaan oleh guru tidak menunjukkan  jari atau menjawab. Tugas dan pekerjaan rumah yang guru berikan juga hanya membebani mereka karena sebagian besar dari peserta didik tidak dapat mengerjakan tugas tersebut dengan benar. Selain kreativitas peserta didik tersebut,  hasil belajar juga rendah. Hal ini terbukti hasil Ulangan Harian dari materi SK 4. Memahami konsep kemagnetan dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. dengan KD 4.1 Menyelidiki gejala kemagnetan dan cara membuat magnet. hanya 27 prosen dari 26 peserta didik  atau 7 peserta didik yang mendapatkan nilai sama atau lebih tinggi dari KKM. Ilmu  Pengetahuan Alam memiliki KKM yaitu 70. Hasil Ulangan Harian tersebut nilai tertinggi 75 dan nilai terendah 50 serta peserta didik yang mendapat nilai tertinggi hanya 2 peserta didik sedangkan peserta didik yang lain jauh di bawahnya. Selanjutnya hasil pengamatan dan hasil belajar tersebut dinamakan kondisi awal penelitian. 
Sebelum penelitian, peneliti belum menggunakan Kit magnet, sedangkan pembelajaran IPA hanya menggunakan buku materi, LCD sebagai media pembelajaran, metode informasi,  dan tanya jawab serta penugasan. Sebelum memulai pembelajaran peserta didik diminta untuk membaca buku materi kemudian dilanjutkan pra tes, setelah pra tes dibahas baru memulai pembelajaran dan diakhiri dengan penugasan.  Namun penugasan ini membuat peserta didik terlalu terbebani dan juga membuat mereka jenuh
Harapan peneliti kreativitas dan hasil belajar materi SK 4. Memahami konsep kemagnetan dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari, bagi peserta didik kelas IX A SMP Negeri 27 Surakarta Semester I Tahun pelajaran 2013/2014 meningkat. Kreativitas dan hasil belajar peserta didik kelas IX A SMP Negeri 27 Surakarta Semester I Tahun pelajaran 2013/2014 perlu ditingkatkan karena kreativitas yang rendah akan dapat menyebabkan kemalasan yang berkepanjangan sehingga dapat mengakibatkan peserta didik putus sekolah. Demikian pula hasil belajar perlu ditingkatkan karena nilai rapor sangat penting untuk mendukung nilai sekolah yang akhirnya dapat diperhitungkan untuk kelulusan peserta didik. 
Rendahnya kreativitas dan hasil belajar  materi SK 4. Memahami konsep kemagnetan dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari bagi peserta didik kelas IX A SMP Negeri 27 Surakarta Semester I Tahun pelajaran 2013/2014 dapat pula dimungkinkan karena guru. Penggunaan Kit magnet yang sesuai  oleh guru sangat berarti untuk meningkatkan kreativitas dan hasil belajar  suatu materi pelajaran. Oleh karena itu guru perlu menggunakan Kit magnet untuk pembelajaran.
Masalah yang terjadi pada peserta didik kelas IX A SMP Negeri 27 Surakarta Semester I Tahun pelajaran 2013/2014 yaitu kreativitas dan hasil belajar  SK 4. Memahami konsep kemagnetan dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. masih rendah Sedangkan harapan peneliti kreativitas  dan hasil belajar tersebut meningkat. Masalah peneliti yaitu belum menggunakan Kit magnet untuk pembelajaran materi SK 4. Memahami konsep kemagnetan dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. pada peserta didik kelas IX A SMP Negeri 27 Surakarta Semester I Tahun pelajaran 2013/2014 Sedangkan harapan  peneliti sudah menggunakan Kit magnet untuk pembelajaran materi SK 4. Memahami konsep kemagnetan dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. pada peserta didik kelas IX A SMP Negeri 27 Surakarta Semester I Tahun pelajaran 2013/2014
Agar masalah tersebut di atas dapat segera mendapatkan jalan keluar maka perlu adanya tindakan oleh peneliti (guru). Tindakan yang dilakukan oleh peneliti tersebut  yaitu menggunakan Kit magnet untuk pembelajaran materi SK 4. Memahami konsep kemagnetan dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. pada peserta didik kelas IX A SMP Negeri 27 Surakarta Semester I Tahun pelajaran 2013/2014. Pelaksanaan tindakan tersebut dibagi dua. Tindakan  ke 1 menggunakan Kit magnet tanpa presentasi dengan cara kelas IX A yang berjumlah 26  peserta didik dibagi menjadi 5 kelompok yaitu kelompok A, B, C, D, E sehingga kelompok A, B, C, D masing-masing beranggota 5 peserta didik, sedangkan kelompok  F beranggotakan 6 peserta didik..Tindakan ke 2 menggunakan Kit magnet disertai penjelasan guru menggunakan LCD dan presentasi. dengan cara kelas IX A yang berjumlah 26 peserta didik dibagi menjadi 5 kelompok yaitu kelompok I, II, III, IV masing-masing terdiri dari 5  peserta didik sedangkan kelompok V terdiri dari 6 peserta didik. Tindakan-tindakan tersebut peneliti lakukan untuk meningkatkan kreativitas dan hasil belajar  materi SK 4. Memahami konsep kemagnetan dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari., bagi peserta didik kelas IX A SMP Negeri 27 Surakarta Semester I Tahun pelajaran 2013/ 2014.
Rumusan Masalah
Apakah melalui penggunaan Kit magnet dapat meningkatkan kreativitas dan hasil belajar IPA materi SK 4. Memahami konsep kemagnetan dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. bagi peserta didik kelas IX A SMP Negeri 27 Surakarta Semester I Tahun pelajaran 2013 /2014?
Tujuan Penelitian.
Meningkatkan kreativitas dan hasil belajar IPA materi SK 4. Memahami konsep kemagnetan dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. bagi peserta didik kelas IX A SMP Negeri 27 Surakarta Semester I Tahun pelajaran 2013 /2014 melalui penggunaan Kit magnet.







KAJIAN TEORI DAN PENGAJUAN HIPOTESIS TINDAKAN
Kreativitas Belajar IPA
Menurut Eng Hock Chia dalam (Pamilu, 2007:1), berkaitan dengan kreativitas belajar IPA, maka menyebutkan kreativitas sebagaian besar berasal dari pengaruh lingkungann dan keterampilan. Oleh karena itu kreativitas tidak bisa dipisahkan dengan aktivitas. Aktivitas bersifat mutlak untuk kemajuan setiap pribadi.
Ciri-ciri seorang anak memiliki kreativitas tinggi yaitu (1) selalu ingin tahu, (2) memiliki minat yang luas, (3) suka melalukan aktivitas yang kreatif. Berdasarkan  uraian pendapat di atas tentang kreativitas  belajar IPA, maka dapat disimpulkan bahwa kreativitas belajar IPA yang dimaksud adalah kegiatan atau perilaku siswa pada saat belajar IPA antara lain: (1) berani dan mau bertanya (2) memperhatikan  penjelasan guru (3) mengerjakan latihan atau tugas
Hasil Belajar  IPA
Hasil belajar merupakan indikator tingkat keberhasilan setelah peserta didik mengikuti proses pembelajaran.  Melalui indikator prestasi belajar, peserta didik dapat mengetahui sejauhmana daya serap (kemampuan akhir) mereka setelah mengikuti proses pembelajaran. Bagi guru, hasil belajar merupakan indikator ketepatan rancangan dan pelaksanaan pembelajaran.
Hasil belajar dapat diukur dengan menggunakan alat ukur yang disebut evaluasi. Menurut Solihatin (2007:43) Evaluasi merupakan proses untuk menimbang kebaikan pelajar untuk memberikan penilaian kualitas belajar, yang meliputi tes dan non tes.  .
Penggunaan Kit Magnet
Hakikat Kit 
Kit pada prinsipnya adalah sebuah alat peraga dan pada hakikatnya adalah suatu alat bantu belajar yang dapat membantu peserta didik dalam mempelajari sesuatu. Jika dimungkinkan peserta didik dapat belajar sendiri tanpa bantuan guru. Oleh karena itu guru bersifat sebagai fasilitator yang siap memberi arahan jika diperlukan saja.
Menurut Komaruddin (2002:1) Belajar tidak hanya merupakan konsekwensi otomatis dari penyampaian informasi ke dalam kepala pelajar namun belajar membutuhkan keterlibatan mental dan tindakan dari pelajar, oleh karena itu belajar mebutuhkan alat bantu atau  alat peraga. Alat peraga memiliki jenis bermacam-macam tergantung materi pelajarannya. Terdapat pula dalam satu materi memiliki banyak jenis alat peraga. Oleh karena itu guru diharapkan pandai memilih alat peraga yang sesuai dengan materi pelajaran dan kondisi peserta didik.                                        
Kit Magnet
Kit Magnet merupakan alat peraga IPA yang dapat digunakan untuk mempelajari materi tentang kemagnetan.. dengan kata lain dapat digunakan untuk membantu belajar tentang materi kemagnetan. Alat peraga yang juga merupakan  alat pelajaran menurut Subdit Sarana Pendidikan (2005: 13) adalah salah satu sarana pendidikan yang sangat penting, karena tanpa alat akan menyulitkan siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Alat pelajaran ini dapat berupa benda sebenarnya tetapi dapat pula berupa benda tiruan.
Penggunaan Kit Magnet Tanpa Presentasi
Menurut Dewey dalam Sugiyanto (2009: 152) deskripsi pandangan tentang pendidikan yaitu sekolah cerminan masyarakat dan kelas adalah laboratorium untuk penyelidikan. oleh karena itu guru didorong agar melibatkan anak didiknya dalam kelompok- kelompok untuk terlibat dalam suatu proyek yang ia minati.
Berdasarkan pandangan tersebut maka Penggunaan Kit magnet  ini dilakukan secara kelompok Penggunaan Kit magnet  dalam kelompok ini dapat pula untuk mengantisipasi keterbatasan jumlah Kit dan juga keterbatasan waktu yang tersedia. Peserta didik dalam satu kelas dibagi menjadi kelompok-kelompok kemudian masing-masing kelompok melakukan pengamatan menurut lembar kerja siswa (LKS), Selesai pelaksanaan pengamatan dan diskusi kelompok maka setiap kelompok membuat laporan hasil pengamatan.
Penggunaan Kit Magnet dengan Presentasi
Pendidikan tidak akan berhasil tanpa adanya komunikasi, dan komunikasi tidak akan efektif tanpa memiliki kecakapan berkomunikasi, Syukur (2008: 2). Pada kegiatan penggunaan Kit magnet yang juga merupakan bagian pendidikan ini tentunya perlu juga adanya komunikasi sedangkan komunikasi ini dilakukan dengan jalan diskusi dan presentasi Penggunaan Kit magnet  dengan presentasi ini dimungkinkan dapat meningkatkan kreativitas peserta didik. Selain  membuat peserta didik tidak mengantuk, mau berdiskusi, dan mau mengerjakan latihan atau perintah yang terdapat pada lembar kerja, juga dapat membuat peserta didik  berani bertanya dan berani maju ke depan untuk mempresentasikan hasil pengamatannya.
Kerangka berpikir
Pada Kondisi awal guru sebagai peneliti belum menggunakan Kit magnet  dalam pembelajaran IPA materi SK 4. Memahami konsep kemagnetan dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari., dengan KD 4.1 Menyelidiki gejala kemagnetan dan cara membuat magnet bagi peserta didik kelas IX A SMP Negeri 27 Surakarta Semester I Tahun pelajaran 2013 /2014. Pembelajaran hanya menggunakan buku materi sebagai media pembelajaran, metode informasi, dan tanya jawab serta penugasan. Sebelum memulai Pembelajaran peserta didik diminta untuk membaca buku materi kemudian dilanjutkan pra tes, setelah pra tes dibahas baru memulai pembelajaran dan diakhiri dengan penugasan, karena peneliti belum menggunakan Kit magnet tersebut maka kreativitas dan hasil belajar IPA materi SK 4. Memahami konsep kemagnetan dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. tersebut untuk peserta didik kelas IX A SMP Negeri 27 Surakarta Semester I Tahun pelajaran 2013 /2014 rendah.
Supaya kreativitas dan hasil belajar IPA materi SK 4. Memahami konsep kemagnetan dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari untuk peserta didik kelas IX A SMP Negeri 27 Surakarta Semester I Tahun pelajaran 2013 /2014 tersebut meningkat maka peneliti perlu melakukan tindakan yaitu menggunakan Kit magnet.
Siklus 1 menggunakan Kit magnet untuk pembelajaran IPA pada peserta didik kelas IX A SMP Negeri 27 Surakarta Semester I Tahun pelajaran 2013 /2014 yang dilakukan secara kelompok dan tanpa presentasi.  Kelas IX A yang berjumlah 26 peserta didik dibagi menjadi 5 kelompok yaitu kelompok A,B,C,D, dan E sehingga kelompok  A, B, C, D masing-masing beranggotakan 5 peserta didik sedangkan kelompok E memiliki anggota 6 peserta didik. .
Materi pada siklus 1 ini adalah SK 4. Memahami konsep kemagnetan dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.,  sedangkan KD 4.2 Mendeskripsikan pemanfaatan kemagnetan dalam produk teknologi.. Siklus I dilakukan 1 kali pembelajaran dan 1 kali Ulangan harian.
Siklus 2 penggunaan Kit magnet untuk pembelajaran IPA pada peserta didik kelas IX A SMP Negeri 27 Surakarta Semester I Tahun pelajaran 2013 /2014 yang dilakukan secara kelompok dengan disertai presentasi. Kelas IX A yang berjumlah 26 peserta didik dibagi menjadi 5 kelompok  yaitu kelompok I, II, III, IV, dan V sehingga kelompok  I, II, III, IV masing-masing beranggotakan 5 peserta didik sedangkan kelompok V memiliki anggota 6 peserta didik Materi pada siklus 2 ini  adalah SK 4. Memahami konsep kemagnetan dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. sedangkan KD 4.3 Menerapkan konsep induksi elektromagnetik untuk menjelaskan prinip kerja beberapa alat yang memanfaatkan prinsip induksi elektromagnetik. Siklus 2 ini dilakukan satu kali tatap muka pembelajaran dan satu kali Ulangan Harian.
Kondisi Akhir
Diduga melalui penggunaan Kit magnet dalam pembelajaran IPA  dapat meningkatkan kreativitas dan hasil belajar IPA materi SK 4. Memahami konsep kemagnetan dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari bagi peserta didik kelas IX A SMP Negeri 27 Surakarta Semester I Tahun pelajaran 2013 /2014.

Hipotesis Tindakan
Melalui penggunaan Kit magnet dapat meningkatkan kreativitas dan hasil belajar IPA materi SK 4. Memahami konsep kemagnetan dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari bagi peserta didik kelas IX A  SMP Negeri 27 Surakarta Semester I Tahun pelajaran 2013 /2014.


















METODE PENELITIAN
Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Kelas IX A Semester I Tahun Pelajaran 2013/2014 SMP Negeri 27 Surakarta mulai bulan Juli 2013 minggu terakhir sampai dengan bulan Desember 2013.
Teknik dan Alat Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data pada penelitian ini dengan dokumentasi, observasi dan tes tertulis. Dokumentasi yang alatnya berupa dokumen dan catatan tentang kreativitas dilakukan untuk mendapatkan data kondisi awal. Sedangkan observasi dan tes tertulis dilakukan untuk mendapatkan data siklus 1 dan siklus 2.
Validasi dan Analisis Data
Teknik observasi pada penelitian ini divalidasi dengan melibatkan teman sejawat atau berkolaborasi sedangkan teknik tes tertulis divalidasi dengan kisi-kisi soal. Analisis data dilakukan dengan cara deskriptif komparatif atau membandingkan.
Prosedur Tindakan
Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas. Banyaknya tindakan sebanyak dua kali dalam dua siklus.Tiap siklus terdiri dari empat tahapan yaitu: perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi dan evaluasi terhadap hasil tindakan.



HASIL TINDAKAN
Deskripsi Data Kondisi Awal
Kreativitas belajar peserta didik kelas IX A SMP Negeri 27 Surakarta. Semester I Tahun pelajaran 2013/2014 untuk mata pelajaran IPA pada kondisi awal rendah. Hal ini terbukti setiap pembelajaran IPA dari 26 peserta didik hanya 20 prosen yang menunjukkan kreativitas baik, sedangkan 80 prosen yang lain atau 21 peserta didik yang lain pasif  Hasil pembelajaran IPA pada kondisi awal ini juga rendah, hal ini terbukti bahwa Ulangan Harian SK 4. Memahami konsep kemagnetan dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari., sedangkan  KD 4.1 Menyelidiki gejala kemagnetan dan cara membuat magnet., hanya 27 prosen dari 26 peserta didik  atau 7 peserta didik yang mendapatkan nilai sama atau lebih tinggi dari KKM. Ilmu Pengetahuan Alam memiliki KKM yaitu 70. Hasil Ulangan harian tersebut nilai tertinggi 75 dan nilai terendah 50 dan peserta didik yang mendapat nilai tertinggi hanya 2 anak sedangkan peserta didik yang lain jauh di bawahnya.  Nilai Ulangan harian tersebut dapat dilihat pada tabel
Hasil Belajar Kondisi Awal
No    KKM    Uraian    Frekuensi
1
2
3    70    Nilai di bawah KKM (belum tercapai )    19
        Nilai sama KKM   (tercapai )    5
        Nilai lebih dari KKM  ( terlampaui )    2





Hasil Belajar Kondisi Awal
No    Uraian    Prestasi
1    Nilai terendah    50
2    Nilai tertinggi    75
3    Nilai Rerata    6.4
4    Rentang Nilai    25


Deskripsi Data Siklus 1
Kreativitas belajar peserta didik  kelas IX A SMP  Negeri 27 Surakarta Semester I Tahun pelajaran 2013 /2014 untuk mata pelajaran IPA pada siklus 1 ini terdapat 60 prosen dari 26 peserta didik. yaitu 16 peserta didik yang perhatian nya tertuju pada pelajaran. 16 peserta didik tersebut menunjukkan aktif mau menunjukkan jari untuk menjawab pertanyaan guru, mengerjakan laporan hasil pengamatan, aktif berdiskusi , berani bertanya dan tidak mengantuk. 
Pada siklus 1 ini peneliti sudah menggunakan Kit magnet  namun tidak disertai presentasi. Hasil pembelajaran pada siklus 1 yang diperoleh dari hasil Ulangan Harian SK 4. Memahami konsep kemagnetan dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari dengan KD 4.2 Mendeskripsikan pemanfaatan kemagnetan dalam produk teknologi terdapat  62 prosen dari 26 peserta didik atau 16 peserta didik yang mendapatkan nilai sama atau lebih tinggi dari KKM. Ilmu Pengetahuan Alam memiliki KKM yaitu 70. Hasil Ulangan Harian tersebut nilai tertinggi 80 dan nilai terendah 60. Nilai Ulangan Harian ini dapat dilihat pada tabel.



Hasil Belajar Siklus 1
No    KKM    Uraian    Frekuensi
1
2
3    70    Nilai di bawah KKM (belum tercapai )    10
        Nilai sama KKM   (tercapai )    11
        Nilai lebih dari KKM  ( terlampaui )    5

Hasil Belajar Siklus 1
No    Uraian    Prestasi
1    Nilai terendah    60
2    Nilai tertinggi    80
3    Nilai Rerata    68.7
4    Rentang Nilai    20

Kreativitas belajar peserta didik kelas IX A SMP Negeri 27 Surakarta Semester I tahun pelajaran 2013/ 2014, dari  kondisi awal ke siklus 1 mengalami peningkatan yaitu  dari 20 prosen peserta didik yang kreativitasnya baik menjadi 60 prosen.
Hasil belajar peserta didik  kelas IX A  SMP Negeri 27 Surakarta Semester I tahun pelajaran 2013/ 2014, dari kondisi awal ke siklus 1 mengalami peningkatan yaitu  peserta didik yang mendapatkan nilai ≥ KKM  ( KKM IPA = 70) adalah 7 peserta didik.atau 27 prosen sedangkan pada siklus 1 menjadi 16 peserta didik atau 62 prosen.
Deskripsi Data Siklus 2
Kreativitas belajar peserta didik kelas IX A SMP  Negeri 27  Surakarta  Semester I Tahun pelajaran 2013 /2014 untuk mata pelajaran IPA pada siklus 2 ini terdapat 80 prosen dari 26 peserta didik  yaitu 21 anak perhatian nya telah tertuju pada pelajaran. 21 peserta didik tersebut menunjukkan aktif mau menunjukkan jari untuk menjawab pertanyaan guru, mengerjakan laporan hasil pengamatan, aktif berdiskusi , berani bertanya dan tidak mengantuk serta berani berpresentasi.
Pada siklus 2 ini peneliti sudah menggunakan Kit magnet dan disertai presentasi. Hasil pembelajaran pada siklus 2 yang diperoleh dari hasil Ulangan Harian SK 4. Memahami konsep kemagnetan dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. dengan 4.3 Menerapkan konsep induksi elektromagnetik untuk menjelaskan prinsip kerja beberapa alat yang memanfaatkan prinsip induksi elektromagnetik., terdapat  84.6 prosen dari 26 peserta didik atau 22 peserta didik yang mendapatkan nilai sama atau lebih tinggi dari KKM. Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) memiliki KKM yaitu 70. Hasil Ulangan harian tersebut nilai tertinggi 85 dan nilai terendah 65.  Rekap nilai Ulangan Harian tersebut dapat dilihat pada tabel.
Hasil Belajar Siklus 2
No    KKM    Uraian    Frekuensi
1
2
3    70    Nilai di bawah KKM (belum tercapai )    4
        Nilai sama KKM   (tercapai )    10
        Nilai lebih dari KKM  ( terlampaui )    12


Hasil Belajar Siklus 2
No    Uraian    Prestasi
1    Nilai terendah    65
2    Nilai tertinggi    85
3    Nilai Rerata    64.0
4    Rentang Nilai    20
Kreativitas belajar peserta didik kelas IX A SMP Negeri 27 Surakarta Semester I tahun pelajaran 2013/ 2014, dari siklus 1 ke siklus 2 mengalami peningkatan yaitu  dari 60 prosen  peserta didik yang kreativitasnya baik menjadi  80 prosen.
Hasil  belajar peserta didik  kelas IX A  SMP Negeri 27 Surakarta Semester I tahun pelajaran 2013/ 2014, dari  siklus 1 ke siklus 2 mengalami peningkatan yaitu  peserta didik yang mendapatkan nilai ≥ KKM  ( KKM IPA = 70) adalah 16  peserta didik.atau 62 prosen sedangkan pada siklus 2  menjadi 22 peserta didik atau 84.6 prosen.
























HASIL PENELITIAN
Simpulan
Secara teoritik melalui penggunaan Kit magnet dapat meningkatkan kreativitas dan hasil belajar IPA materi SK 4. Memahami konsep kemagnetan dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.bagi peserta didik kelas IX A SMP Negeri 27 Surakarta Semester I Tahun pelajaran 2013 /2014 dan didukung secara empirik. Hal ini terbukti terdapat peningkatan kreativitas belajar peserta didik dari kondisi awal, siklus 1 dan siklus 2 yaitu 20 prosen, 60 prosen,  dan 80 prosen. Sedangkan hasil belajar peserta didik dari kondisi awal, siklus 1 dan siklus 2 mengalami peningkatan yaitu peserta didik yang mendapatkan nilai ulangan harian ≥ KKM  (KKM IPA 70) adalah 27 prosen, 62 prosen,  dan 84.6 prosen.
Saran
Berdasarkan hasil dan pembahasan pada penelitian tindakan kelas ini maka disampaikan saran-saran: sebaiknya Guru SMP Kelas IX mata pelajaran IPA jika memberikan pembelajaran materi SK 4. Memahami konsep kemagnetan dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. menggunakan Kit magnet, oleh karena itu disarankan untuk sekolah Sebaiknya diagendakan pengadaan  Kit magnet, agar jumlah Kit magnet ini cukup dan  memadai.
.





DAFTAR PUSTAKA
BSNP, 2006. Peraturan Menteri Pendidikan Nasiuonal No. 22 Tahun 2006 Tentang Standar Isi, Jakarta.
Depdiknas, 2005,  Kamus Besar Bahara Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka
Hidayat Komaruddin. 2002. 101 Strategi Pembelajaran Aktif. Yogyakarta : Bumimedia.
HP. Mulyadi, 2009, Materi Pembimbingan PTK, Semarang: LPMP Jawa Tengah.
Majid Abdul, 2008, Perencanaan Pembelajaran, Bandung, PT Remaja Rosdakarya.
Pamilu Anik, 2007, Mengembangkan Kreativitas dan Kecerdasan Anak, Yogyakarta, Citra Media.
Prihatin Eka, 2008, Konsep Pendidikan, Bandung, Karsa Mandiri Persada.
Sardiman, AM, 2007. Interaksi dan Motivasi belajar mengajar. Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada
Seifert Kelvin, 2008, Manajemen Pembelajaran dan Instruksi Pendidikan, Jogyakarta, IRCISOD.
 Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta : PT Rineka Cipta.
Solihatin Etin, 2007, Cooperative Learning, Jakarta, BumiAksara
Sriyono. 1992. Teknik Belajar Mengajar dalam CBSA. Jakarta : PT Rineka Cipta.
Sugiyanto, 2009, Model - Model Pembelajaran Inovatif, Surakarta, Panitia Sertifikasi Guru Rayon 13 UNS.
Sulchan Yasyin. 1997. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Jakarta : Amanah.
Suwandi Sarwiji, 2009, Penelitian Tindakan Kelas dan Penulisan Karya Ilmiah,  Surakarta, Panitia Sertifikasi Guru Rayon 13 UNS..
Syamsudin Abin, 2007,Psikologi Kependidikan, Bandung, PT Remaja Rosdakarya.
Syukur Fatah, 2008, Teknologi Pendidikan, Semarang, Rasail Media Group.

Rabu, 22 Oktober 2014

Contoh Skripsi Akuntansi S1: PERBEDAAN PERSEPSI MAHASISWA JUNIOR DAN SENIOR MENGENAI PROFESI AKUNTAN

PERBEDAAN  PERSEPSI  MAHASISWA  JUNIOR  DAN  SENIOR 
MENGENAI PROFESI AKUNTAN


ABSTRAKSI
Tujuan yang hendak dicapai dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan persepsi mahasiswa Junior dan senior mengenai profesi akuntan pada mahasiswa Sampel penelitian ini adalah mahasiswa jurusan Akuntansi diambil dengan menggunakan teknik purposive sample sebanyak 120 responden. Teknik analisis dalam penelitian ini terdiri dari, pengujian instrumen, uji normalitas, dan uji Independent  t-test. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara mahasiswa senior dan mahasiwa junior di Program D-3 Akuntansi,  ada perbedaan yang signifikan antara mahasiswa senior dan mahasiwa junior di Program S-1 Akuntansi, ada perbedaan yang signifikan antara mahasiswa Program D-3 Akuntansi dan mahasiwa di Program S-1 Akuntansi,

Kata kunci : Persepsi mahasiswa Junior dan senior mengenai profesi akuntan pada Program Diploma III, dan S1

Latar Belakang Masalah
Pemerintah pada bulan Mei 2011, mengeluarkan UU No. 5 Tahun 2011 tentang profesi akuntan publik. Pemerintah secara jelas memperbaharui dan merivisi beberapa peraturan kembali tentang profesi akuntan publik. Undang- Undang ini berisikan ruang lingkup jasa akuntan publik, perizinan akuntan publik dan KAP, hak, kewajiban, dan larangan bagi Akuntan Publik dan KAP, kerja sama antar-Kantor Akuntan Publik (OAI) dan kerja sama antara KAP dan Kantor Akuntan Publik Asing (KAPA) atau Organisasi Audit Asing (OAA), Asosiasi Profesi Akuntan Publik, Komite Profesi Akuntan Publik, pembinaan dan pengawasan oleh Menteri, sanksi administratif dan ketentuan pidana.
Peraturan dan kebijakan yang dikeluarkan pemerintah mengenai syarat menjadi seorang akuntan yang harus mengikuti pendidikan profesi akuntan setelah lulus sarjana ekonomi akuntansi, membuat jumlah profesi akuntan meningkat dari tahun ke tahun. Pada awalnya, mahasiswa jurusan akuntansi adalah mahasiswa yang memiliki kesempatan besar untuk langsung melanjutkan program pendidikan akuntansi. Namun, berdasarkan UU No. 5 Tahun 2011, seluruh lulusan sarjana dari berbagai macam jurusan dapat menjadi seorang akuntan, yakni akuntan publik manakala sudah mengikuti ujian sertifikasi secara khusus yang dilaksanakan oleh pemerintah.
Gambaran diatas menunjukkan bahwa mahasiswa/i akuntansi dihadapkan dalam beberapa pilihan untuk menjadi seorang akuntan. Dengan berbagai macam persyaratan dan mekanisme yang harus dilalui untuk menjadi seorang akuntan, sedikit banyak mempengaruhi persepsi seorang mahasiswa untuk menjadi seorang akuntan. Waktu dan biaya yang sangat besar menjadi salah satu faktor yang menghambat mahasiswa untuk tidak menjadi seorang akuntan.
Sarjana Ekonomi Jurusan Akuntansi memilki paling tidak tiga alternatif langkah yang dapat ditempuh. Pertama, setelah menyelesaikan pendidikan ekonomi jurusan akuntansi, seorang sarjana akuntansi dapat langsung bekerja. Kedua, melanjutkan pendidikan akademik S2. dan ketiga, melanjutkan pendidikan profesi untuk menjadi Akuntan Publik. Dengan kata lain, setelah menyelesaikan pendidikan jenjang program sarjana jurusan akuntansi, sarjana akuntansi dapat memilih menjadi Akuntan Publik atau memilih profesi yang lain (Astami, 2001). Setiap sarjana akuntansi bebas untuk memilih karir yang akan dijalaninya sesuai dengan keinginan dan harapannya masing-masing. Berdasarkan jenis karir yang dapat dijalankan oleh sarjana akuntansi tersebut Greenberg dan Baron (2000: 215) menyatakan bahwa karier tersebut meliputi urutan pengalaman pekerjaan seseorang selama jangka waktu tertentu. Pilihan karier mahasiswa dipengaruhi oleh stereotype yang mereka bentuk tentang berbagai macam karier, jadi persepsi dan stereotype karier merupakan hal penting untuk menentukan pilihan karier karena persepsi mahasiswa umumnya dipengaruhi oleh pengetahuan pribadi mengenai lingkungan kerja, informasi dari lulusan terdahulu, keluarga, dosen, dan text book yang dibaca ataupun digunakan.
Minat dan rencana karier mahasiswa yang jelas akan sangat berguna dalam penyusunan program agar materi kuliah dapat disampaikan secara efektif bagi mahasiswa yang memerlukannya. Perencanaan karier merupakan hal yang sangat penting untuk mencapai sukses, oleh karena itu, diperlukan suatu stimulasi untuk membuat mahasiswa mulai memikirkan secara serius tentang karier yang diinginkan sejak masih di bangku kuliah agar mahasiswa dapat memanfaatkan waktu dan fasilitas kampus secara optimal. Peran akuntan pendidik sebagai stimulator untuk hal ini dirasa sangat penting.
Pada kenyataannya sebagian besar sarjana akuntansi bekerja pada perusahaan dan tidak pernah mengikuti ujian sertifikasi. Mahasiswa yang berkeinginan untuk berprofesi sebagai akuntan dan ingin mengikuti ujian sertifikasi perlu mengikuti pendidikan profesi sehingga sosialisasi program pendidikan profesi akuntansi perlu ditingkatkan, oleh karena itu akuntan pendidik perlu memikirkan dan mempertimbangkan minat mahasiswa agar materi kuliah yang disampaikannya dapat efektif sesuai dengan tujuan mahasiswa dalam mengikuti pendidikannya. Berdasarkan pada hal tersebut maka penulis akan melakukan penelitian dengan judul ” Perbedaan Persepsi Mahasiswa Junior dan Senior Mengenai Profesi Akuntan (Studi Pada Mahasiswa Akuntansi di STIE AUB Surakarta)”.

Perumusan Masalah dan Pembatasan Masalah

1.    Perumusan Masalah
Berdasarkan UU RI No. 5 Tahun 2011 tentang profesi akuntan publik, sarjana ekonomi non akuntansi dapat menjadi akuntan publik. Serta adanya peraturan pemerintah yang mewajibkan mahasiswa sarjana ekonomi akuntansi untuk mengikuti PPAk untuk menjadi seorang akuntan mendorong banyak pertimbangan mahasiswa untuk memilih karir sebagai seorang akuntan, belum lagi biaya ujian dan sertifikasi yang cukup tinggi yang harus dikeluarkan oleh mahasiswa itu sendiri. Latar belakang fenomena tersebut yang mendasari penelitian ini. Penelitian ini mengangkat permasalahan sebagai berikut :
a.    Apakah ada perbedaan yang signifikan mengenai profesi akuntan antara persepsi mahasiswa junior dan senior pada program Diploma III di STIE AUB Surakarta?
b.    Apakah ada perbedaan yang signifikan mengenai profesi akuntan antara persepsi mahasiswa junior dan senior pada program Strata 1 di STIE AUB Surakarta?
c.    Apakah ada perbedaan yang signifikan mengenai profesi akuntan antara persepsi mahasiswa Diploma III dengan Strata 1 di STIE AUB Surakarta?
2.    Tujuan Penelitian
Memperhatikan latar belakang dan perumusan masalah, maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui:
a.    Perbedaan yang signifikan mengenai profesi akuntan antara persepsi mahasiswa junior dan senior pada program Diploma III di STIE AUB Surakarta.
b.    Perbedaan yang signifikan mengenai profesi akuntan antara persepsi mahasiswa junior dan senior pada program Strata 1 di STIE AUB Surakarta.
c.    Perbedaan yang signifikan mengenai profesi akuntan antara persepsi mahasiswa Diploma III dengan Strata 1 di STIE AUB Surakarta.
3.    Manfaat Penelitian
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi beberapa pihak, antara lain :
a.    Bagi Akademis
Penelitian ini dapat memberikan nilai tambah dalam meningkatkan kualitas pengajaran sehingga menambah mutu lulusan sebagai pekerja intelektual yang siap pakai sesuai dengan kebutuhan pasar dan membantu memuat kurikulum dalam sistem pendidikan akuntansi yang relevan dalam dunia kerja saat ini.
b.    Bagi mahasiswa akuntansi
Bagi para mahasiswa yang ingin berkarier di bidang akuntansi, penelitian ini membantu mereka untuk lebih mempersiapkan diri menghadapi berbagai kegiatan akuntansi yang terjadi. Selain itu, dengan adanya penelitian ini diharapkan mereka akan lebih sadar terhadap berbagai kegiatan yang terjadi di bidang akuntansi dan mereka yang akan terjun ke dalam profesi akuntansi, maka mereka dapat merencanakan masalah – masalah yang terjadi.
c.    Bagi Penulis
Penelitian ini bermanfaat sebagai masukan bagi penulis dalam hal pengembangan ilmu pengetahuan dan penerapan teori-teori yang ada.
Kerangka Pemikiran
Kerangka pemikiran dalam penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut pada gambar II.1 :
Gambar II.1
Kerangka Pemikiran

    













Sumber : Fitriany dan Yulianti (2007)

Hipotesis
Dalam penelitian ini, kami melakukan berbagai pengujian hipotesis. Pertama-tama, dilakukan pengujian untuk melihat ada tidaknya perbedaan persepsi antara mahasiswa junior dengan mahasiswa senior untuk menilai apakah proses pembelajaran yang dijalani oleh mahasiswa menyebabkan perubahan persepsi mahasiswa terhadap profesi akuntansi.
Ha1 : Ada perbedaan yang signifikan mengenai profesi akuntan antara persepsi mahasiswa Diploma III junior dengan senior di STIE AUB Surakarta.
Ha2 : Ada perbedaan yang signifikan mengenai profesi akuntan antara persepsi mahasiswa Strata I junior dengan senior di STIE AUB Surakarta.
Ha3 : Ada perbedaan yang signifikan mengenai profesi akuntan antara persepsi mahasiswa Diploma III dengan mahasiswa Strata I di STIE AUB Surakarta.
METODE PENELITIAN
Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian ini adalah STIE AUB Surakarta Alamat: Jalan Mr. Sartono Nomor 35 Surakarta Kota Surakarta - 57135.
Populasi dan sampel
Populasi penelitian ini adalah seluruh mahasiswa akuntansi yang ada di STIE AUB Surakarta. Sampel penelitian ini adalah mahasiswa jurusan Akuntansi diambil dengan menggunakan teknik purposive sample sebanyak 180 responden dengan uraian sebagai berikut. 1)Mahasiswa D3 yang belum menempuh mata kuliah auditing dikategorikan sebagai mahasiswa junior sebanyak 30 mahasiswa.2) Mahasiswa D3 yang sudah menempuh mata kuliah auditing dikategorikan sebagai mahasiswa senior sebanyak 30 mahasiswa.3) Mahasiswa S1 yang belum menempuh mata kuliah auditing dikategorikan sebagai mahasiswa junior sebanyak 30 mahasiswa.4) Mahasiswa S1 yang sudah menempuh mata kuliah auditing dikategorikan sebagai mahasiswa senior sebanyak 30 mahasiswa.
Definisi Operasional Variabel
1.    Persepsi  Profesi Akuntan
Definisi persepsi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1995) dalam Ikhsan (2005 : 93), sebagai tanggapan (penerimaan) langsung dari sesuatu atau proses seseorang mengetahui beberapa hal melalui pancaindra. Robbins (2009 : 175) mendefinisikan persepsi sebagai proses tempat individu mengatur dan menginterpretasikan kesan-kesan sensoris guna memberikan arti bagi lingkungan mereka.
a.    Persepsi Akuntan sebagai karir
Akuntan dipandang sebagai karir, karena akuntan merupakan suatu profesi yang dapat digunakan oleh seseorang untuk mencapai karirnya` indikator yang digunakan: 1)Kepuasan pribadi akuntan terhadap pekerjaan. 2) Akuntan merupakan orang yang menyenangkan.3) Perasaan senang menjadi seorang akuntan
b.    Akuntansi Sebagai bidang Ilmu
Akuntansi dipandang sebagai suatu bidang ilmu, karena di dalamnya dapat diperoleh informasi-informasi yang bisa menambah pengetahuan mengenai bidang akuntansi, indikator yang digunakan:1) Aktivitas akuntansi mengacu pada aturan. 2) Akuntansi sebagai ilmu yang menarik.3) Aturan akuntansi bersifat tetap.4) Kesukaan terhadap akuntansi
c.    Akuntan sebagai profesi
Akuntan dipandang sebagai suatu profesi yang dapat digunakan oleh seseorang, khususnya mahasiswa lulusan akuntansi untuk mengejar karir mereka, indikator yang digunakan:1) Akuntan merupakan sebuah profesi.2) Keputusan karir untuk menjadi akuntan.3) Profesi akuntan sangat dihormati.4) Menjadi seorang akuntan, keluarga menjadi senang
d.    Akuntan sebagai kelompok aktivis
Akuntan dipandang kelompok aktivis karena tempat berkumpulnya individu yang membentuk suatu kelompok dalam menganalisis suatu laporan keuangan, indikator yang digunakan: 1)Akuntan bekerja dengan orang lain.2) Kesibukan akuntan dengan angka dan orang lain.3)Akuntan berinteraksi dengan banyak orang lain
2.    Akuntan
Akuntan merupakan profesi yang pemakaiannya dilindungi oleh peraturan (Undang-undang No. 34 tahun 1945) dan hanya dapat dipakai oleh mereka yang telah menyelesaikan pendidikannya dari perguruan tinggi yang diakui menurut peraturan serta telah terdaftar pada Departemen Keuangan yang dibuktikan pemberian nomor register. Profesi akuntan adalah semua bidang pekerjaan yang mempergunakan keahlian di bidang akuntansi, termasuk bidang pekerjaan akuntan publik, akuntan intern yang bekerja pada perusahaan industri, keuangan atau dagang, akuntan yang bekerja di pemerintah, dan akuntan sebagai pendidik.
3.    Mahasiswa Progdi Akuntansi
Mahasiswa Progdi Akuntansi dalam penelitian ini adalah mahasiswa Progdi Akuntansi D3, dan Strata 1.
Jenis dan Sumber data
Jenis data penelitian ini adalah data primer yaitu data penelitian yang diperoleh atau dikumpulkan langsung dari sumber asli (tanpa perantara), Sumber data yang dipergunakan dalam penelitian adalah data primer dalam bentuk opini, sikap, pengalaman atau karakteristik responden (subyek) penelitian dan instrumen yang digunakan adalah kuesioner atau angket. (Sugiyono, 2004:137)
Metode pengumpulan data
1.    Observasi; Observasi diarahkan pada kegiatan secara akurat, mencatat fenomena yang muncul dan mempertimbangkannya hubungan antar aspek dalam fenomena tersebut.
2.    Kuesioner; Penelitian ini menggunakan instrumen kuesioner atau angket yang disebarkan kepada responden, yaitu berupa daftar pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi pelitian. Daftar pertanyaan peneliti susun secara berjenjang berdasarkan skala pengukuran Likert dengan urutan lima, yaitu : 1, 2, 3, 4, 5 dengan kriteria jawaban sebagai berikut : Jawaban sangat setuju= Skor 5, Jawaban setuju= Skor 4, Jawaban netral    = Skor 3, Jawaban tidak setuju= Skor 2, Jawaban sangat tidak setuju= Skor 1
Metode Analisis Data
1.    Uji Instrumen
a.    Pengujian Validitas Instrumen
Pengujian validitas merupakan pengujian yang dilakukan untuk mengukur apakah instrumen yang digunakan dalam penelitian benar-benar mampu mewakili semua aspek yang dianggap sebagai kerangka konsep.  Untuk menguji validitas akan digunakan uji korelasi product moment Pearson dengan bantuan Program SPSS.  Apabila nilai r hitung instrumen lebih besar dari r tabel maka dinyatakan valid . Secara manual rumus uji tersebut adalah:
     rxy     =                   n  xy  -    xy      
                         n  x 2- (  x)2   n  y 2 - (  y)2     
Keterangan:
rxy    = korelasi antara x dan y
x    = skor nilai x
y    = skor nilai total y
n    = jumlah sample  (Umar, 2003:78)

b.    Uji  Reliabilitas  
Uji Reliabilitas digunakan untuk mengukur bahwa instrumen penelitian bebas dari kesalahan persepsi  sehingga menghasilkan hasil yang konsisten dan dapat digunakan pada kondisi yang berbeda-beda. Untuk menguji reliabilitas akan digunakan Cronbach alpha dengan program SPSS. Instrumen dinyatakan reliabel apabila  nilai alpha lebih besar dari 0,6. Rumus  koefisien   alpha :  (Umar,2003:90)
               k                    σ2b
     R11    =     (                ) (                   )
                      k-1                 σt2

Keterangan:
       
R11        = reliabilitas instrumen   
K        = banyaknya butir pertanyaan
σ2b        = jumlah varian butir
σt2        = varian total

2.    Uji Normalitas
Uji normalitas data dimaksudkan untuk mengetahui apakah data yang digunakan dalam penelitian ini bersifat normal atau tidak. Apabila data yang dipakai normal maka dipakai uji statistika parametrik sebaliknya kalau data tidak normal maka alat uji yang dipakai statistika non parametrik. Pengujian normalitas data akan digunakan alat uji Smirnov kolmogorof dengan program SPSS.  Data mempunyai distribusi normal apabila nilai signifikansinya diatas 0,05 (Ghozali,2005 : 112). Rumus yang digunakan secara manual adalah: (Sugiyono,2004 : 239)
D     = maksimum [ Sn1(X) – Sn2 (X)]
        Keterangan :
D    = nilai kritis
Sn1    = standar deviasi fungsi distribusi empiris
Sn2    = standar deviasi fungsi distribusi kumulatif

3.    Uji Hipotesis
Pengujian hipotesis dilakukan untuk menguji adanya perbedaan persepsi mengenai profesi akuntan antara mahasiswa junior dan mahasiswa senior. Pengujian hipotesis yang digunakan yaitu Independent t-test yang dengan menggunakan program SPSS. Dasar pengambilan keputusan pada uji t :
Cara melakukan uji t menurut Ghozali (2005 : 56) adalah:
a)Apabila jumlah degree of freedom (df) adalah 20 atau lebih, dan derajat kepercayaan 5 %, maka Ho ditolak atau menerima hipotesis alternatif yang menyatakan bahwa suatu variabel independen secara individual mempengaruhi variabel dependen.
b) Apabila nilai t hitung lebih tinggi dibandingkan t tabel, maka hipotesis alternatif diterima.
c)Apabila probabilitas signifikansi <  α 0,05 maka hipotesis alternative diterima

ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN
Gambaran Obyek Penelitian
Obyek penelitian adalah mahasiswa Akuntansi STIE AUB (Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Adi Unggul Bhirawa) Surakarta. Lokasi penelitian adalah STIE AUB Surakarta Jl. Mr. Sartono No.35 Surakarta 57135.
Deskripsi Data
Jenis penelitian ini merupakan penelitian survey yang dilakukan pada STIE AUB Surakarta dengan menyebarkan kuesioner pada mahasiswa. Data penyebaran yang telah dilakukan dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel IV. 1
Distribusi Kuesioner

No    Pendidikan    Kuesioner Disebar    Tidak Kembali (rusak)    Kembali
1    Mahasiswa D3 Junior    40    10    30
2    Mahasiswa D3 Senior    40    10    30
3    Mahasiswa S1 Junior    40    10    30
4    Mahasiswa S1 Senior     40    10    30
Jumlah    160    40    120

Hasil Uji Kualitas Data
1.    Pengujian validitas
a.    Hasil uji validitas variabel untuk variabel Persepsi Mahasiswa D3 Junior
Hasil uji validitas untuk variabel Persepsi Mahasiswa D3 Junior disajikan pada tabel IV.2.
Tabel IV. 2
Hasil Uji Validitas Instrumen Persepsi Mahasiswa D3 Junior

Item Pernyataan    ritem    rtabel    Keterangan
X1_1    0,559    0,361    Valid
X1_2    0,575    0,361    Valid
X1_3    0,519    0,361    Valid
X1_4    0,482    0,361    Valid
X1_5    0,493    0,361    Valid
X1_6    0,399    0,361    Valid
X1_7    0,533    0,361    Valid
X1_8    0,544    0,361    Valid
X1_9    0,548    0,361    Valid
X1_10    0,480    0,361    Valid
X1_11    0,689    0,361    Valid
X1_12    0,402    0,361    Valid
X1_13    0,477    0,361    Valid
X1_14    0,516    0,361    Valid
Sumber : Data yang diolah, 2013
Berdasarkan Tabel IV.2. dapat disimpulkan bahwa 14 item pernyataan mempunyai nilai r hitung lebih besar dari r tabel (0,361). Hal ini menunjukan bahwa instrumen pernyataan variabel persepsi Mahasiswa D3 Junior valid.   
b.    Hasil uji validitas variabel Mahasiswa D3 Senior
Hasil uji validitas untuk variabel Persepsi Mahasiswa D3 Senior disajikan pada tabel IV.3.
Tabel IV. 3
Hasil Uji Validitas Instrumen Persepsi Mahasiswa D3 Senior

Item Pernyataan    ritem    rtabel    Keterangan
X2_1    0,596    0,361    Valid
X2_2    0,653    0,361    Valid
X2_3    0,409    0,361    Valid
X2_4    0,508    0,361    Valid
X2_5    0,553    0,361    Valid
X2_6    0,609    0,361    Valid
X2_7    0,436    0,361    Valid
X2_8    0,438    0,361    Valid
X2_9    0,439    0,361    Valid
X2_10    0,471    0,361    Valid
X2_11    0,643    0,361    Valid
X2_12    0,460    0,361    Valid
X2_13    0,460    0,361    Valid
X2_14    0,515    0,361    Valid
Sumber : Data yang diolah, 2013
Berdasarkan Tabel IV.3. dapat disimpulkan bahwa 14 item pernyataan mempunyai nilai r hitung lebih besar dari r tabel (0,361). Hal ini menunjukan bahwa instrumen pernyataan variabel persepsi Mahasiswa D3 Senior valid.
c.    Hasil uji validitas variabel Mahasiswa S1 Junior
Hasil uji validitas untuk variabel Persepsi Mahasiswa S1 Junior disajikan pada tabel IV.4
    Tabel IV. 4
Hasil Uji Validitas Instrumen Persepsi Mahasiswa S1 Junior

Item Pernyataan    ritem    rtabel    Keterangan
X3_1    0,440    0,361    Valid
X3_2    0,426    0,361    Valid
X3_3    0,438    0,361    Valid
X3_4    0,525    0,361    Valid
X3_5    0,569    0,361    Valid
X3_6    0,697    0,361    Valid
X3_7    0,534    0,361    Valid
X3_8    0,462    0,361    Valid
X3_9    0,462    0,361    Valid
X3_10    0,603    0,361    Valid
X3_11    0,448    0,361    Valid
X3_12    0,490    0,361    Valid
X3_13    0,551    0,361    Valid
X3_14    0,435    0,361    Valid
Sumber : Data yang diolah, 2013
Berdasarkan Tabel IV.4. dapat disimpulkan bahwa 14 item pernyataan mempunyai nilai r hitung lebih besar dari r tabel (0,361). Hal ini menunjukan bahwa instrumen pernyataan variabel persepsi Mahasiswa S1 Junior valid.
d.    Hasil uji validitas variabel Mahasiswa S1 Senior
Hasil uji validitas untuk variabel Persepsi Mahasiswa S1 Senior disajikan pada tabel IV.5.
Tabel IV. 5
Hasil Uji Validitas Instrumen Persepsi Mahasiswa S1 Senior

Item Pernyataan    ritem    rtabel    Keterangan
X4_1    0,774    0,361    Valid
X4_2    0,808    0,361    Valid
X4_3    0,620    0,361    Valid
X4_4    0,675    0,361    Valid
X4_5    0,757    0,361    Valid
X4_6    0,412    0,361    Valid
X4_7    0,459    0,361    Valid
X4_8    0,661    0,361    Valid
X4_9    0,747    0,361    Valid
X4_10    0,581    0,361    Valid
X4_11    0,408    0,361    Valid
X4_12    0,468    0,361    Valid
X4_13    0,597    0,361    Valid
X4_14    0,686    0,361    Valid
Sumber : Data yang diolah, 2013
Berdasarkan Tabel IV.5. dapat disimpulkan bahwa 14 item pernyataan mempunyai nilai r hitung lebih besar dari r tabel (0,361). Hal ini menunjukan bahwa instrumen pernyataan variabel persepsi Mahasiswa S1 Senior valid.
2.    Pengujian reliabilitas
Hasil uji Reliabilitas data disajikan pada tabel IV.6.
Tabel IV.6
Hasil Uji reliabilitas Instrumen

Variabel    Cronbach    Kriteria    Keterangan
Persepsi Mahasiswa D3 Junior    0,802    Alpha cronbach > 0,60 maka reliabels    Reliabel
Persepsi Mahasiswa D3 Senior    0,832        Reliabel
Persepsi Mahasiswa S1 Junior    0,806        Reliabel
Persepsi Mahasiswa S1 Senior    0,870        Reliabel
    Sumber : Data yang diolah, 2013
Hasil uji reliabilitas data pada tabel IV.6 di atas  menunjukkan bahwa semua instrumen yang digunakan dalam penelitian ini reliabel. Hal ini ditunjukan dengan koefisien alpha yang melebihi 0,6.
Hasil Uji Normalitas
Hasil uji Normalitas data disajikan pada tabel IV.7.
Tabel IV.7
Hasil Uji Normalitas

    Sumber : data primer yang diolah, 2013

Hasil uji normalitas Kolmogorov-Smirnov tabel IV.7 di atas menunjukkan bahwa nilai asymp. Sig > 0.05 sehingga dapat disimpulkan bahwa data terdistribusi secara normal.
Hasil Pengujian Hipotesis
Hasil pengujian hipotesis dengan menggunakan Independent t-test disajikan pada tabel IV.8.

                        Tabel IV. 8
                       Hasil Independent t-test

Sumber : data yang diolah, 2013

        Berdasarkan tabel IV.8 membuktikan bahwa:
a.    Beda Persepsi Mahasiswa Junior Dan Senior pada Program Diploma Akuntansi Mengenai Profesi Akuntan
Berdasarkan hasil pengujian di atas  tampak bahwa ada perbedaan yang signifikan antara mahasiswa senior dan mahasiwa junior di Program D-3 Akuntansi yaitu probabilitas signifikansi sebesar < α 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa hipotesis 1 yang menyatakan ada perbedaan yang signifikan mengenai profesi akuntan antara mahasiswa Diploma III junior dengan senior diterima.
b.    Beda Persepsi Mahasiswa Junior Dan Senior pada Program S-1 Akuntansi Mengenai Profesi Akuntan.
Berdasarkan hasil pengujian di atas  tampak bahwa ada perbedaan yang signifikan antara mahasiswa senior dan mahasiwa junior di Program S-1 yaitu probabilitas signifikansi sebesar < α 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa hipotesis 2 yang menyatakan ada perbedaan yang signifikan mengenai profesi akuntan antara mahasiswa  S-1 junior dengan senior diterima.
c.    Beda Persepsi Mahasiswa Diploma III dan Mahasiswa Strata I Mengenai Profesi Akuntan
Berdasarkan pengujian di atas  tampak bahwa ada perbedaan yang signifikan antara mahasiswa di Program Diploma III dan mahasiwa di Program Program S-1 yaitu probabilitas signifikansi sebesar < α 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa hipotesis 3 yang menyatakan ada perbedaan yang signifikan mengenai profesi akuntan antara mahasiswa Diploma III dan mahasiswa S-I diterima.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulan bahwa proses pengajaran telah berhasil memberi pemahaman yang lebih baik kepada mahasiswa senior mengenai akuntansi sebagai aktifitas kelompok, tapi belum berhasil meningkatkan persepsi mahasiswa senior mengenai akuntan sebagai sebuah profesi yang setara dengan dokter dan ahli hukum. Kurikulum dan proses pengajaran pada Program D-3 Akuntansi dan Program S-1 Akuntansi, terutama Program S-1 Akuntansi perlu ditingkatkan untuk menarik minat mahasiswa belajar akuntansi dan meningkatkan persepsi mereka mengenai profesi akuntan. Perlu diterapkan berbagai metode pengajaran agar mahasiswa menjadi semakin senang dengan akuntansi dan semakin ingin menjadi akuntan.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengolahan data yang dilakukan, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
1.    Ada perbedaan yang signifikan mengenai profesi akuntan antara mahasiswa Diploma III junior dengan senior.
2.    Ada perbedaan yang signifikan mengenai profesi akuntan antara mahasiswa  S-1 junior dengan senior.
3.    Ada perbedaan yang signifikan mengenai profesi akuntan antara mahasiswa Diploma III dan mahasiswa S-I
Keterbatasan
Penelitian ini difokuskan pada permasalahan yang diteliti agar tercapai semua itu maka penulis menerapkan batasan-batasan penelitian sebagai berikut :
1.    Penelitian ini hanya meneliti di STIE AUB Surakarta sehingga tidak bisa digeneralisasikan terhadap Perguruan Tinggi lainnya.
2.    Penelitian ini hanya menggunakan variabel persepsi akuntan yang diukur dengan Persepsi Akuntan sebagai karir, Akuntansi Sebagai bidang Ilmu, Akuntan sebagai profesi, dan Akuntan sebagai kelompok aktivis, sehingga untuk peneliti yang akan datang diharapkan dapat menggunakan variabel lain yang berpengaruh terhadap profesi Akuntan.
Saran
1.    Dalam penelitian ini variabel yang sangat berpengaruh dan signifikan adalah variabel akuntan sebagai karir, dengan menganggap bahwa profesi akuntan adalah profesi yang dapat digunakan untuk mencapai karirnya maka seorang akuntan akan memiliki kepuasan pribadi terhadap pekerjaannya, dia juga akan menganggap bahwa akuntan adalah orang yang menyenangkan serta dia akan memiliki perasaan yang senang menjadi seorang akuntan.
2.    Untuk penelitian selanjutnya lebih baik melakukan wawancara langsung ke responden, karena dengan melakukan wawancara langsung data yang didapat secara kualitas dan kuantitas lebih baik, sehingga hasil penelitian lebih berkualitas kebenarannya.
3.    Untuk penelitian selanjutnya diharapkan untuk menambah variabel lain yang dapat mempengaruhi persepsi mahasiswa akuntansi mengenai profesi akuntan dan dengan jumlah sampel yang lebih besar sehingga hasil penelitian memiliki daya generalisasi yang lebih kuat.
DAFTAR PUSTAKA
   
Andersen, William. 2012. Analisis persepsi mahasiswa akuntansi dalam memilih profesi sebagai akuntan. jurnal UNDIP

Astami, Emita Wahyu. 2001. Faktor-Faktor yang Berpengaruh dalam Pemilihan Profesi Akuntan Publik dan Nonakuntan Publik bagi Mahasiswa Jurusan Akuntansi, KOMPAK 1, Jan 2001: 57-84.

Fitriany dan Yulianti. 2007. Perbedaan persepsi antara mahasiswa senior dan junior mengenai profesi akuntan pada program S1 reguler, S1 ekstensi dan program diploma 3. Jurnal SNA X

Ghozali, Imam. 2005. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS. Badan Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang

Greenberg, Jerald dan Baron, Robert A. 2000. Perilaku Organisasi. Jakarta : Prentice Hall. Griffin

Hansen dan Mowen, 2006. Akuntansi Manajemen.Edisi 7.Jakarta : Salemba Empat.

Ikhsan, Arfa dan Muhammad Ishak. 2005. Akuntansi Keprilakuan. Salemba Empat: Jakarta.

Mulyadi, 2002. Auditing. Edisi 6. Jakarta : Salemba Empat

Rasmini, Ni Ketut. 2007, Faktor-Faktor Yang Berpengaruh Pada Keputusan Pemilihan Profesi Akuntan Publik Dan Nonakuntan Publik Pada Mahasiswa. Buletin Studi Ekonomi Vol. 12 No.3:351-363

Regar, Moenaf H. 2007. Mengenal Profesi Akuntan dan Memahami Laporannya. Cetakan Kedua. Jakarta: PT. Bumi Aksara.

Rizal. Perkembangan Etika Profesi. Available at (www.google.com) diakses 24-12-2012
Robbins, Stephen P. dan Timothy A. Judge. 2009. Perilaku Organisasi. Edisi 12. Diterjemahkan oleh Diana Angelica. Jakarta: Salemba Empat.

Simamora, Henry, 2001. Akuntansi Basis Pengambilan Keputusan Bisnis, Jilid. Dua, Cetakan Pertama, Penerbit Salemba Empat, Jakarta

Soemarso, S.R. 2004. Akuntansi Suatu Pengantar. Edisi 5. Jakarta: Salemba Empat

Sugiyono. (2004). Metode Penelitian Bisnis, Penerbit Alfabeta, Cetakan  keenam Bandung

Umar, Husein , (2003), Metode Riset akuntansi Terapan,  Ghalia Indonesia

UU No. 5 Tahun 2011 Tentang Profesi Akuntan Publik

Widyasari, Yuanita. 2010. Persepsi mahasiswa akuntansi mengenai faktor – faktor yang membedakan pemilihan karir. jurnal UNDIP

Wulansari, Amalia S. 2008. “Studi Persepsi Mahasiswa Akuntansi Terhadap Profesionalisme Dosen Akuntansi Perguruan Tinggi Di Daerah Istimewa Yogyakarta”. Universitas Islam Indonesia: Yogyakarta.

Rabu, 01 Oktober 2014

Jurnal Skripsi Akuntansi: PENGARUH TINGKAT PENDIDIKAN, TEKNOLOGI INFORMASI, PENERAPAN SELF ASSESSMENT SISTEM, SANKSI PERPAJAKAN, DAN KEPRIBADIAN TERHADAP KEPATUHAN WAJIB PAJAK PENGHASILAN Pph 21


PENGARUH TINGKAT PENDIDIKAN, TEKNOLOGI INFORMASI, PENERAPAN SELF ASSESSMENT SISTEM, SANKSI PERPAJAKAN, DAN  KEPRIBADIAN TERHADAP KEPATUHAN WAJIB PAJAK PENGHASILAN Pph 21


Penelitian ini bertujuan untuk meneliti pengaruh tingkat pendidikan, teknologi informasi, penerapan self assessment system, sanksi perpajakan, dan kepribadian terhadap kepatuhan wajib pajak penghasilan PPh 21 di Surakarta. Populasi penelitian ini adalah wajib pajak yang berada di wilayah KPP Surakarta. Sampel yang digunakan pada penelitian ini sebanyak 64 responden yang berada di wilayah Surakarta. Instrumen di uji pakai, uji validitas, realibelitas, asumsi klasik, uji analisis regresi linier berganda, dan uji hipotesis (uji t, uji f dan uji  R2). Hasil pengujian analisis regresi linier berganda menunjukan bahwa variabel tingkat pendidikan, self assessment system, dan sanksi perpajakan berpengaruh positif terhadap kepatuhan wajib pajak PPh 21 di Surakarta, sedangkan variabel teknologi informasi dan kepribadian berpengaruh negatif terhadap kepatuhan wajib pajak PPh 21 di Surakarta. Uji t menunjukkan bahwa, variabel tingkat pendidikan, self assessment system, dan sanksi perpajakan berpengaruh tidak signifikan  terhadap kepatuhan wajib pajak PPh 21 di Surakarta, sedangkan variabel teknologi informasi dan kepribadian berpengaruh berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak PPh 21 di Surakarta. Uji F menghasilkan kesimpulan bahwa tingkat pendidikan, teknologi informasi, penerapan self assessmen system, sanksi perpajakan, dan kepribadian secara bersama-sama mempengaruhi kepatuhan wajib pajak penghasilan PPh 21 di Surakarta. Koefisien determinasi (R2) diperoleh nilai koefisien determinasi  (R2) sebesar 0,007

Kata Kunci : tingkat pendidikan, teknologi informasi, self assessment system, sanksi perpajakan, kepribadian, dan kepatuhan wajib pajak

Latar Belakang Masalah
Pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan undang-undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk kepentingan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Pajak dapat dikelompokkan kedalam tiga kelompok yaitu menurut golongannya, sifatnya, dan pemungutnya. Pajak langsung adalah pajak yang pembebanannya tidak dapat dilimpahkan pihak lain, tetapi harus menjadi beban langsung Wajib Pajak yang bersangkutan. Contoh pajak langsung yaitu pajak penghasilan. Pajak penghasilan adalah pajak yang dikenakan terhadap penghasilan, dapat dikenakan secara berkala dan berulang-ulang dalam jangka waktu tertentu baik masa pajak atau tahun pajak.
Tingkat pendidikan merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kepatuhan Wajib Pajak. Wajib Pajak yang memiliki pendidikan yang tinggi akan lebih mudah memperoleh informasi tentang perpajakan, namun dengan tingkat pendidikan yang rendah informasi yang diperoleh kurang maksimal yang akhirnya cenderung mengabaikan kewajiban perpajakannya. Perubahan teknologi di Direktorat Jendral Pajak mulai dilakukan sejalan dengan reformasi yang dilakukan oleh Direktorat Jendral Pajak. Peta strategis Direktoral Jendral Pajak menggambarkan bahwa teknologi informasi sebagai salah satu strategi dalam meningkatkan kepatuhan Wajib Pajak. Teknologi informasi merupakan alat yang dapat mempermudah kerja Wajip Pajak dalam melakukan transaksi perpajakan, sehingga dengan adanya kemudahan yang ditimbulkan oleh teknologi informasi maka Wajip Pajak semakin patuh terhadap perpajakan sesuai dengan undang-undang yang berlaku.
Self Assessment Sistem merupakan sistem pemungutan pajak yang memberi wewenang, kepercayaan, tanggung jawab kepada Wajib Pajak untuk menghitung, memperhitungkan, membayar, dan melaporkan sendiri besarnya pajak yang harus dibayar. Keberhasilan dari adanya Self Assessment Sistem sangat tergantung dari sikap atau persepsi Wajib Pajak terhadap sistem tersebut. Pemeriksaan pajak juga merupakan instrumen yang baik untuk meningkatkan kepatuhan Wajib Pajak, baik baik formal maupun material dari peraturan perpajakan, yang tujuannya untuk menguji dan meningkatkan kepatuhan perpajakan seorang Wajib Pajak.
Tingkat kepatuhan wajib pajak dipengaruhi beberapa faktor, diantaranya adalah persepsi wajib pajak tentang sanksi perpajakan dan kesadaran Wajib Pajak. Terdapat undang-undang yang mengatur tentang ketentuan umum dan tata cara perpajakan. Agar peraturan perpajakan dipatuhi, maka harus ada sanksi perpajakan bagi para pelanggarnya. Wajib Pajak akan memenuhi kewajiban perpajakannya bila memandang bahwa sanksi perpajakan akan lebih banyak merugikannya. Kepribadian Wajib Pajak juga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kepatuhan Wajib Pajak. Wajib Pajak yang memiliki kepribadian baik serta kesadaran yang tinggi akan lebih patuh dalam membayar pajak, namun Wajib Pajak yang memiliki kepribadian buruk akan menghindari pajak.
Direktorat Jendral Pajak terbilang sering melakukan reformasi perpajakan. Mulai dari undang- undang perpajakan sampai dengan aturan pelaksanaanya, serta memodernisasi sistem administrasi perpajakan yakni dengan teknologi informasi. Namun kemudahan teknologi informasi ini masih banyak yang belum bisa memanfaatkannya sehingga kepatuhan wajib pajak belum meningkat, hal ini karena pendidikan mereka yang masih rendah serta kepribadian wajib pajak yang jelek, sehingga tidak mau melaporkan pajak terutangnya. Untuk meningkatkan kepatuhan wajib pajak, Direktorat Jendral Pajak juga mengubah sistem pemungutan pajak menjadi self assessment system yang memberikan kepercayaan kepada wajib pajak untuk menentukan pajak terutangnya sendiri. Sanksi perpajakan juga sangat mempengaruhi tingkat kepatuhan wajib pajak karena wajib pajak tidak bisa menghindari sanksi perpajakan apabila wajib pajak melanggarnya. Berdasarkan penjelasan-penjelasan yang telah di kemukakan di atas tersebut, peneliti tertarik untuk menulis penelitian dengan judul “PENGARUH TINGKAT PENDIDIKAN, TEKNOLOGI INFORMASI, PENERAPAN SELF ASSESSMENT SISTEM, SANKSI PERPAJAKAN, DAN  KEPRIBADIAN TERHADAP KEPATUHAN WAJIB PAJAK PENGHASILAN Pph 21”
Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan diatas, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut : 1) Apakah tingkat pendidikan berrpengaruh signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak penghasilan Pph 21? 2) Apakah teknologi informasi berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak penghasilan Pph 21? 3) Apakah penerapan self assessment sistem berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak penghasilan Pph 21?. 4) Apakah sanksi perpajakan berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak penghasilan Pph 21? 5) Apakah kepribadian berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak penghasilan Pph 21? 6) Apakah tingkat pendidikan, teknologi informasi, penerapan self assessment sistem, sanksi perpajakan, dan kepribadian berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak penghasilan Pph 21 ?
Tujuan dan Kegunaan Penelitian
1.    Tujuan Penelitian
Sesuai dengan latar belakang dan rumusan masalah, maka yang menjadi tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui: a)Signifikansi pengaruh tingkat pendidikan terhadap kepatuhan wajib pajak penghasilan Pph 21.b) Signifikansi pengaruh teknologi informasi terhadap kepatuhan wajib pajak penghasilan Pph 21. c) Signifikansi pengaruh penerapan self assessment sistem terhadap kepatuhan wajib pajak penghasilan Pph 21.d) Signifikansi pengaruh sanksi perpajakan terhadap kepatuhan wajib pajak penghasilan Pph 21.e) Signifikansi pengaruh kepribadian terhadap kepatuhan wajib pajak penghasilan Pph 21.f) Signifikansi pengaruh tingkat pendidikan, teknologi informasi, penerapan self assessment sistem, sanksi perpajakan, dan kepribadian terhadap kepatuhan wajib pajak penghasilan Pph 21.
2.    Kegunaan Penelitian
Berdasarkan latar belakang, rumusan masalah dan tujuan penelitian maka penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi:
a.    Bagi Akademis; Penelitian ini dapat dijadikan sebagai kontribusi wacana perpajakan terhadap dunia pendidikan pada umumnya dan dunia perpajakan pada khususnya.
b.    Bagi Wajib Pajak; Dapat meningkatkan kepatuhan tentang pentingnya pajak dan kontribusi mereka dalam peningkatan pendapatan negara.
c.    Bagi Fiskus; Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh tingkat pendidikan, teknologi informasi, penerapan self assessment sistem, dan kepribadianterhadap kepatuhan wajib  pajak Penghasilan Pph 21
d.    Bagi Peneliti; Penelitian ini merupakan aplikasi teori yang telah dipelajari peneliti sehingga penelitian ini merupakan proses belajar bagi peneliti yang berhubungan dengan perpajakan.
METODE PENELITIAN
Lokasi Penelitian
Penelitian ini merupakan studi empiris yang dilakukan di wilayah Surakarta, terutama di KPP Pratama Surakarta.
Definisi Operasional Variable
Penelitian ini terdiri dari 6 (enam) variabel meliputi : (1) variabel independen, tingkat pendidikan, teknologi informasi, penerapan self assesmnent system, sanksi perpajakan, dan kepribadian. (2) variabel dependen: kepatuhan wajib pajak penghasilan PPh 21.
METODE PENELITIAN
Lokasi Penelitian
Penelitian ini merupakan studi empiris yang dilakukan di wilayah Surakarta, terutama di KPP Pratama Surakarta.
Definisi Operasional Variable
Penelitian ini terdiri dari 6 (enam) variabel meliputi : (1) variabel independen, (2) tingkat pendidikan, (3) teknologi informasi, (4) penerapan self assesmnent system, (5) sanksi perpajakan, dan (6) kepribadian. (2) variabel dependen: kepatuhan wajib pajak penghasilan PPh 21.
Tingkat Pendidikan
Tingkat pendidikan adalah pendidikan formal yang dilakukan seseorang secara berjenjang dan berkesinambungan dari pendidikan dasar sampai perguruan tinggi. Indikator yang digunakan untuk mengukur variabel karakteristik individu ini adalah pendidikan terakhir Wajib Pajak.
Teknologi Informasi
Penggunaan teknologi informasi diharapkan akan membantu Wajib Pajak dalam melakukan pembayaran pajak secara lebih mudah, aman, dan transparan serta meningkatkan Wajib Pajak terhadap kewajiban administrasi perpajakannya. Indikator-indikator yang digunakan untuk mengukur variable Teknologi Informasi adalah : a)pengisian SPT secara on-line ( e- SPT ).b) pamakaian e- filling dalam pelaporan pajak.c) pembayaran pajak secara on-line ( e- payment ).d) website pajak sebagai informasi pajak
2.    Penerapan Self Assesment System
Self assessment system merupakan suatu sistem pengenaan pajak yang memberi wewenang kepada Wajib Pajak untuk menghitung, memperhitungkan, membayar dan melaporkan sendiri kewajiban pajaknya. Indikator-indikator yang digunakan untuk mengukur variabel Self Assesment System ini adalah sebagai berikut : a) Wajib Pajak mendaftarkan diri secara aktif ke Kantor Pelayanan Pajak untuk mendapatkan Nomor Pokok Wajib Pajak.b) Wajib Pajak mengambil sendiri formulir SPT ( Surat Pemberitahuan ).c) Wajib Pajak mengisi sendiri formulir SPT ( Surat Pemberitahuan ).d) Wajib Pajak menghitung sendiri pajak penghasilannya secara benar.e) Wajib Pajak melaporkan sendiri SPT ( Surat Pemberitahuan )
3.    Sanksi
Sanksi perpajakan merupakan alat pencegah agar wajib pajak tidak melanggar norma perpajakan, peraturan perpajakan akan dipatuhi bila ada sanksi perpajakan bagi para pelanggarnya. Indikator pada variabel sanksi perpajakan adalah sebagai berikut :a) Keterlambatan melaporkan dan membayar pajak harus dikenai  sanksi.b) Tingkat penerapan sanksi perpajakan. c). Sanksi digunakan untuk meningkatkan kepatuhan wajib pajak. d). Penghapusan sanksi meningkatkan kepatuhan wajib pajak.
4.    Kepribadian
Kepribadian didefinisikan sebagai sikap dan pemikiran Wajib Pajak Penghasilan dalam menghadapi pajak yang harus dibayarnya. Indikator - indikator variabel kepribadian ini adalah sebagai berikut : a)Sikap keberatan Wajib Pajak terhadap peraturan perpajakan.b) Wajib Pajak berusaha mengurangi jumlah pajak.c) Media pemecahan masalah.d) Sikap keberatan pengenaan pajak terhadap hasil usaha.
5.    Kepatuhan Wajib Pajak
Kepatuhan Wajib Pajak merupakan tingkat keikutsertaan yaitu sejauh mana wajib pajak mengikuti undang-undang dan peraturan yang berlaku dalam melaporkan pajak penghasilan. Indikator-indikator yang digunakan untuk mengukur variabel kepatuhan wajib pajak ini adalah sebagai berikut: a)Semua Wajib Pajak mempunyai NPWP.b)Setiap Wajib Pajak menyampaikan SPT (Surat Pemberitahuan) tepat waktu yang telah ditentukan.c) Setiap Wajib Pajak yang terlambat menyampaikan SPT di denda sesuai aturan.d) Wajib Pajak membayar kekurangan pajak penghasilan sebelum dilakukan pemeriksaan.e) Wajib Pajak yang salah mengisi SPT bersedia mengisi kembali SPT secara benar.f) Wajib Pajak melunasi pajak yang terutang atau mengangsur jumlah pajak yang terutang
C.    Populasi dan Sampel
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2008). Populasi dalam penelitian ini adalah Wajib Pajak Penghasilan PPh 21 yang berada di wilayah Surakarta. Kriteria yang digunakan untuk memilih sampel adalah : a) Wajib Pajak yang memiliki NPWP. b)Wajib Pajak yang membayar pajak penghasilan PPh 21 pada saat penelitian, baik yang membayar di KPP maupun responden yang berada di wilayah Surakarta.
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki populasi tersebut (Sugiyono, 2008: 81). Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling yang secara sengaja mengambil sampel sesuai kriteria yang telah ditentukan oleh peneliti. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 64 Wajib Pajak Penghasilan yang berada di KPP Surakarta.
Jenis dan Sumber Data
Penelitian ini menggunakan data primer dengan cara menyebarkan kuisioner pada sampel yaitu Wajib Pajak Orang Pribadi (WPOP) yang digunakan dalam penelitian. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif yang menekankan analisisnya pada data-data numerikal yang diolah dengan metode statistik.
Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data dilakukan secara langsung menggunakan kuisoner dengan cara menggunakan daftar pertanyaan tertulis kepada responden. Data-data dalam penelitian harus diuji secara verifikatif, oleh sebab itu data deskriptif yang didapat dari responden perlu diverifikatifkan terlebih dahulu dengan menggunakan skala likert. Skala likert adalah salah satu cara untuk menentukan skor dengan memberikan skor kepada responden dan memilih salah satu jawaban yang ada. Interval skor yang digunakan dalam skala likert penelitian ini adalah : 1) Nilai 1 - Sangat Tidak Setuju.2) Nilai 2 - Tidak Setuju. 3) Nilai 3 - Netral .4) Nilai 4 – Setuju. 5) Nilai 5 – Sangat Setuju
Metode Analisis Data
1.    Uji Instrumen Penelitian
a.    Uji Validitas
Validitas merupakan suatu alat ukur untuk melihat atau mengetahui apakah kuesioner dapat digunakan untuk mengukur keadaan responden sebenarnya. Untuk menguji validitas keadaan responden maka digunakan teknik one shot methods. Rumus yang digunakan adalah:
  =     (Arikunto, 2006: 170)
Keterangan :
     : koefisien korelasi
n    : jumlah sample
∑x    : jumlah nilai tiap-tiap item
∑y    : jumlah total item   
∑ xy    : jumlah hasil kali antara x dengan y
        Sebuah instrumen dikatakan valid apabila nilai r hitung > r table, sedangkan dinyatakan tidak valid apabila r hitung   r tabel dengan tingkat kepercayaan 0,05.
b.    Uji Reliabilitas
Uji ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana hasil pengukuran dua kali atau lebih terhadap gejala yang sama, dimana hasilnya ditunjukkan oleh sebuah indeks yang menunjukkan sebarapa jauh suatu alat ukur dapat diandalkan. Pengujian reliabilitas dalam penelitian ini menggunakan metode Cronbach Alpha. Rumus yang digunakan sebagai berikut:
r11 =    (Arikunto, 2006: 196)
Keterangan :
r11    : Reliabilitas instrument
k        : Banyaknya butir pertanyaan
∑α    : Jumlah varians butir
 t    : Varians total
Suatu variabel dikatakan reliabel jika nilai Cronbach Alpha > 0,60 dan dikatakan tidak reliabel jika nilai Cronbach Alpha < 0,60.
2.    Uji Asumsi Klasik
a.    Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi variabel terikat dan variabel bebas keduanya mempunyai distribusi normal atau tidak. Model regresi yang baik adalah yang memiliki distribusi normal atau mendekati normal. Normalitas data dihitung dengan menggunakan uji Kolmogorov Smirnov dengan level of significant (tingkat signifikan) 5% (α=0,05). Data yang memiliki level of significant sama atau di atas 5% (α ≥ 0,05) maka data tersebut terdistribusi dengan normal, sedangkan jika kurang dari 5% (α < 0,05) maka data tersebut tidak terdistribusi dengan normal (Ghozali, 2005: 114).
b.    Uji Multikolinieritas
Uji multikolinieritas bertujuan untuk menguji adanya korelasi antar variabel bebas (independen) dalam model regresi. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel bebas. Multikolinieritas terjadi apabila nilai VIF (Varian Inflation Factors) lebih besar dari 10 dan angka tolerance lebih kecil dari 0,10. (Ghozali, 2005: 92).
c.    Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi bertujuan untuk melihat adanya korelasi diantara variabel gangguan dalam model regresi, sehingga penafsiran tidak lagi efisien. Pengujian ada tidaknya masalah autokorelasi digunakan metode Durbin Watson. Hasil perhitungan apabila diperoleh nilai Durbin Watson lebih dari nilai batas atas (dU) dan lebih kecil dari 5 - batas atas (dU) maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada autokorelasi (Ghozali, 2005: 103).
Kriteria pengujian adanya autokorelasi sebagai berikut :
1)    DW < dL        : autokorelasi positif
2)    dL < DW < dU        : ragu-ragu
3)    4-dL < DW < 4    : aurokorelasi negatif
4)    4-dU < DW < 4-dL    : ragu-ragu
5)    dU < DW < 4-dU    : tidak ada autokorelasi
4). Uji Heteroskedastisitas
Pengujian heteroskedasitas bertujuan untuk menguji adanya ketidaksamaan varian dari faktor gangguan untuk seluruh pengamatan atas variabel independen. Variabel yang baik merupakan variabel yang tidak heteroskedastisitas. Pengujian heteroskedastisitas dilakukan dengan Uji Glejser, yaitu dengan meregresikan nilai absolut dari residual sebagai variabel dependen terhadap semua variabel independen yang diteliti. Heteroskedastisitas terjadi jika probabilitas < 0,05, demikian sebaliknya tidak terjadi heteroskedastisitas jika probabilitas > 0,05 (Ghozali, 2005: 109).
3.    Uji Hipotesis
a.    Analisis Regresi Linier Berganda
Analisis ini digunakan untuk menguji pengaruh variabel independen (tingkat penghasilan, teknologi informasi, penerapan self assessment system, sanksi perpajakan, dan kepribadian) terhadap variabel dependen yaitu kepatuhan Wajib Pajak Penghasilan. Persamaan regresi linier berganda dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut:
Y= a + b1X1 + b2X2 + b3X3 + b4X4+b5X5+e     ( Djarwanto, 2003: 186 )
Keterangan :
Y                = Kepatuhan Wajib Pajak Penghasilan di Surakarta
X1        = Tingkat Pendidikan
X2        = Teknologi Informasi
X3        = Penerapan Self Assesment System
X4        = Sanksi Perpajakan
X5         = Kepribadian
a         = Kostanta
b1, b2, b3 , b4, b5    = Koefisien Regresi
e        = Faktor Error/Disturbance
b.    Uji t
Uji t digunakan untuk mengetahui pengaruh variabel independen secara parsial berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen. Hasil uji t dapat dilihat dari output SPSS, jika nilai signifikansi < 0,05 berarti variabel independen secara parsial berpengaruh signifikan, maka hipotesis yang diajukan dapat diterima.
c.    Uji F
Uji F digunakan untuk mengetahui pengaruh yang signifikan semua variabel independen secara bersama-sama terhadap variabel dependen. Hasil output SPSS uji F dengan signifikansi < 0,05  dapat disimpulkan bahwa secara bersama-sama variabel independen berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen.
d.    Koefisien Determinasi (R2)
Koefisien determinasi (R2) untuk mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variabel yang terikat. Nilai koefisien determinasi adalah diantara nol dan satu. Nilai (R2) yang kecil berarti kemampuan variabel-variabel independen dalam menjelaskan variasi variabel dependen sangat terbatas. Nilai yang mendekati satu berarti variabel-variabel independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan memprediksi variabel-variabel dependen. Rumus yang digunakan adalah :
             (Djarwanto, 2003: 196)
Keterangan:

      = Koefisien Determinasi
SSR     = Sum of Squares from the Regression
SST      = Total Sum of Squares Deviations
ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN
Gambaran Obyek Penelitian
Penelitian ini merupakan studi empiris yang mengambil wilayah Surakarta sebagai tempat penelitian dan Wajib Pajak Penghasilan sebagai obyek penelitian. Kuesioner yang disebar sebanyak 64 (enam puluh empat), dan semua digunakan. Distribusi penyebaran kuesioner  dapat dilihat pada tabel sebagai berikut :
Tabel IV.1
Distribusi Penyebaran Kuesioner

Keterangan    Jumlah    Persentase (%)
Kuesioner yang disebar
Kuesioner yang kembali    64
64    100%
100%
Kuesioner yang digunakan.    64    100 %   
        Sumber : data primer diolah, 2013
Deskripsi Data
Data yang terkumpul merupakan data primer, yaitu data yang berasal dari jawaban responden terhadap daftar pertanyaan yang dibagikan langsung kepada Wajib Pajak Penghasilan di wilayah Surakarta. Berdasarkan obyek penelitian, deskripsi responden dalam penelitian dapat dilihat melalui usia, jenis kelamin, dan pendidikan terakhir. Berdasarkan Tabel 4.2 dapat diketahui bahwa sebagian besar responden berjenis kelamin laki-laki sebesar 57,8%, sisanya 42,2% berjenis kelamin perempuan. Sedangkan dari usianya, sebagian besar responden berusia 21-30 sebanyak 48,4%, berusia 31-40 31,2%, berusia 41-50 sebanyak 15,6%, dan responden berusia lebih dari 50 tahun sebanyak 4,8%. Berdasarkan tingkat pendidikannya dapat diketahui bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat pendidikan terakhir SMA/Sederajat-D3 adalah 46,8% dan 53,2% adalah responden yang memiliki tingkat pendidikan terakhirnya S1-S2.
Tabel IV.2
Deskripsi Responden Keseluruhan
Data Deskriptif    Keterangan    Jumlah    Prosentase
Jenis Kelamin    Laki-Laki    37    57,8%
    Perempuan    27    42,2%
Usia    Antara 21-30 tahun    31    48,4%
    Antara 31-40 tahun    20    31,2%
    Antara 41-50 tahun    10    15,6%
    Lebih dari 50 tahun    3    4,8%
Pendidikan Terakhir    SMA/Sederajat – D3    30    46,8%
    S1 - S2    34    53,2%
Sumber : Data primer yang diolah
Analisa Data dan Pembahasan
1. Uji Instrumen Penelitian
    Uji instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji validitas dan uji reliabilitas. Hasil uji validitas dan uji reliabilitas tersebut adalah sebagai berikut :
a.    Uji Validitas
1)    Validitas item pertanyaan untuk variabel Teknologi Informasi (X2)
    Variabel Teknologi Informasi terdiri dari 4 item pertanyaan. Pengujian validitas menggunakan teknik one shot methods yaitu dengan membandingkan nilai rhitung dengan nilai rtabel = 0,246 dan didapatkan hasil dari 4 item pertanyaan valid karena mempunyai nilai ritem lebih besar dari nilai rtabel.
Tabel IV.3
Hasil Uji Validitas Teknologi Informasi
Item Pertanyaan    rhitung    rtabel    Kesimpulan
X2-1    0,460    0,246    Valid
X2-2    0,597    0,246    Valid
X2-3    0,452    0,246    Valid
X2-4    0,532    0,246    Valid
    Sumber : Data Primer diolah 2013
Hasil uji pada tabel 4.3 diatas menunjukkan validitas item pertanyaan untuk variabel Teknologi Informasi (X2) Variabel Teknologi Informasi terdiri dari 4 (empat) item pertanyaan. Pengujian validitas menggunakan teknik one shot methods yaitu dengan membandingkan nilai rhitung dengan nilai rtabel = 0,246 dan didapatkan hasil dari 4 item pertanyaan valid karena mempunyai nilai ritem lebih besar dari nilai rtabel.
2)    Validitas item pertanyaan untuk variabel Self Assessment System (X3)
Tabel IV.4
Hasil Uji Validitas Self Assessment System
Item Pertanyaan    rhitung    rtabel    Kesimpulan
X3-1    0,381    0,246    Valid
X3-2    0,387    0,246    Valid
X3-3    0,538    0,246    Valid
X3-4    0,374    0,246    Valid
X3-5    0,604    0,246    Valid
    Sumber : Data Primer diolah 2013
Hasil uji pada tabel 4.4 diatas menunjukkan validitas item pertanyaan untuk variabel Self Assessment System (X3) Variabel Self Assessment System terdiri dari 5 (lima) item pertanyaan. Pengujian validitas menggunakan teknik one shot methods yaitu dengan membandingkan nilai rhitung dengan nilai rtabel = 0,246 dan didapatkan hasil dari 5 item pertanyaan valid karena mempunyai nilai ritem lebih besar dari nilai rtabel.
3)    Validitas item pertanyaan untuk variable Sanksi Perpajakan (X4)
Tabel IV.5
Hasil Uji Validitas Sanksi Perpajakan
Item Pertanyaan    rhitung    rtabel    Kesimpulan
X4-1    0,468    0,246    Valid
X4-2    0,358    0,246    Valid
X4-3    0,394    0,246    Valid
X4-4    0,390    0,246    Valid
    Sumber : Data Primer diolah 2013
Hasil uji pada tabel 4.5 diatas menunjukkan validitas item pertanyaan untuk variabel Sanksi Perpajakan (X4) Variabel Sanksi Perpajakan terdiri dari 4 (empat) item pertanyaan. Pengujian validitas menggunakan teknik one shot methods yaitu dengan membandingkan nilai rhitung dengan nilai rtabel = 0,246 dan didapatkan hasil dari 4 item pertanyaan valid karena mempunyai nilai ritem lebih besar dari nilai rtabel.
4)    Validitas item pertanyaan untuk variable Kepribadian (X5)
Tabel IV.6
Hasil Uji Validitas Kepribadian
Item Pertanyaan    rhitung    rtabel    Kesimpulan
X5-1    0,342    0,246    Valid
X5-2    0,365    0,246    Valid
X5-3    0,419    0,246    Valid
X5-4    0,477    0,246    Valid
X5-5    0,361    0,246    Valid
    Sumber : Data Primer diolah 2013
Hasil uji pada tabel 4.6 diatas menunjukkan validitas item pertanyaan untuk variabel Kepribadian (X4) Variabel Self Assessment System terdiri dari 5 (lima) item pertanyaan. Pengujian validitas menggunakan teknik one shot methods yaitu dengan membandingkan nilai rhitung dengan nilai rtabel = 0,246 dan didapatkan hasil dari 5 item pertanyaan valid karena mempunyai nilai ritem lebih besar dari nilai rtabel.
5)    Validitas item pertanyaan untuk variable Kepatuhan Wajib Pajak (Y)
Tabel IV.7
Hasil Uji Validitas Kepatuhan Wajib Pajak
Item Pertanyaan    rhitung    rtabel    Kesimpulan
Y-1    0,445    0,246    Valid
Y-2    0,443    0,246    Valid
Y-3    0,407    0,246    Valid
Y-4    0,531    0,246    Valid
Y-5    0,490    0,246    Valid
    Sumber : Data Primer diolah 2013
Hasil uji pada tabel diatas menunjukkan validitas item pertanyaan untuk variabel Kepatuhan Wajib Pajak (Y) Kepatuhan Wajib Pajak terdiri dari 5 (lima) item pertanyaan. Pengujian validitas menggunakan teknik one shot methods yaitu dengan membandingkan nilai rhitung dengan nilai rtabel = 0,246 dan didapatkan hasil dari 5 item pertanyaan valid karena mempunyai nilai ritem lebih besar dari nilai rtabel.
b.    Uji Reliabilitas
Tabel IV.8
Variabel Penelitian    Alpha Cronbach’s    Kriteria Pengujian    Kesimpulan
Teknologi Informasi (X2)
Self Assessment System (X3)
Sanksi Perpajakan (X4)
Kepribadian (X5)    0,721
0,621
0,734
0,862    0,60
0,60
0,60
0,60    Reliabel
Reliabel
Reliabel
Reliabel
    Sumber : Data Primer diolah 2013
Tabel tersebut menjelaskan bahwa secara keseluruhan variabel penelitian (Teknologi Informasi, Self Assessment System, Sanksi Perpajakan, Sanksi Perpajakan Kepribadian) diyatakan reliabel, karena nilai Alpha Cronbach’s > 0,60
2. Uji Asumsi Klasik
a.    Uji Normalitas
Tabel IV.9
Hasil Uji Normalitas
   


Hasil uji Kolmogorov-Smirnov dapat dijelaskan bahwa secara keseluruhan variabel yang digunakan dalam penelitian ini (tingkat pendidikan, teknologi informasi, penerapan self assessment system, Sanksi perpajakan, kepribadian, dan kepatuhan Wajib Pajak Penghasilan) mempunyai distribusi normal, karena mempunyai nilai signifikansi sebesar 0,373 > 0,05.
b.    Uji Multikolinieritas
Tabel IV.10
Hasil Uji Multikolinieritas

Uji melalui Variance Inflation Factor (VIF) yang terlihat dalam tabel diatas menunjukkan bahwa masing-masing variabel independen memiliki nilai VIF kurang dari 10 sehingga dapat disimpulkan tidak terdapat multikolinieritas.
c.    Uji Autokorelasi
Tabel IV.11
Hasil Uji Autokorelasi

Hasil uji autokorelasi nilai Durbin-Watson sebesar 1,860 akan dibandingkan dengan nilai tabel dengan menggunakan derajat kepercayaan 5%, jumlah sampel 64 dan jumlah variabel bebas 5, maka di tabel Durbin-Watson akan didapat nilai dL = 1,432 dan dU = 1,767 . Hasil DW sebesar 1,860 menunjukkan bahwa tidak ada autokorelasi karena 1,767 < 1,882 < 4-1,767 (2,233).
d.    Uji Heteroskedastisitas
Tabel IV.12
Hasil Uji Hetroskedastisitas

Hasil tersebut dapat diketahui bahwa tidak terjadi heteroskedastisitas karena variabel Tingkat Pendidikan, Teknologi Informasi, Self Assessment System, Sanksi Perpajakan, dan  Kepribadian memiliki nilai signifikan > 0,05.
3. Analisis Regresi Linier Berganda
Tabel IV.13
Hasil Analisis Regresi Linier Berganda

Persamaan regresi linier yang diperoleh dari analisis regresi linier berganda adalah sebagai berikut :
Y= a + b1X1 + b2X2 + b3X3 + b4X4+b5X5+e   
Y = - 0,038   +   0,503 X1 - 0,021 X2 + 0,809 X3 + 0,724 X4 – 0,013 X5 + e
     Berdasarkan persamaan regresi linier berganda diatas dapat diketahui bahwa:
a.    a = -0,038 menunjukan apabila variable tingkat pendidikan, teknologi informasi, Self Assessmen System, sanksi perpajakan, dan kepribadian dianggap Nol, maka kepatuhan wajib pajak akan menurun.
b.    b1 = 0,503, menunjukkan bahwa variable tingkat pendidikan berpengaruh positif terhadap kepatuhan wajib pajak. Apabila tingkat pendidikan meningkat, maka kepatuhan wajib pajak juga akan meningkat, dengan catatan variable lain konstan.
c.    b2 = - 0,021, menunjukkan bahwa variable teknologi informasi berpengaruh negatif terhadap kepatuhan wajib pajak. Apabila teknologi informasi meningkat, maka kepatuhan wajib pajak juga akan menurun, dengan catatan variable lain konstan.
d.    b3 = 0,809, menunjukkan bahwa variable Self Assessmen System berpengaruh positif terhadap kepatuhan wajib pajak. Apabila Self Assessmen System meningkat, maka kepatuhan wajib pajak juga akan meningkat, dengan catatan variable lain konstan.
e.    b4 = 0,724, menunjukkan bahwa variable Sanksi Perpajakan berpengaruh positif terhadap kepatuhan wajib pajak. Apabila Sanksi Perpajakan meningkat, maka kepatuhan wajib pajak akan meningkat, dengan catatan variable lain konstan.
f.       b5 = -0,013, menunjukkan bahwa variable Kepribadian berpengaruh negatif terhadap kepatuhan wajib pajak. Apabila Kepribadian meningkat, maka kepatuhan wajib pajak akan menurun, dengan catatan variable lain konstan.
4. Uji Hipotesis
a.    Uji t
Tabel IV.14
Hasil Uji t

Hasil analisis yang dapat dijelaskan dari tabel di atas adalah sebagai berikut : 1) Hasil pengujian menunjukkan bahwa signifikansi Tingkat Pendidikan 0,503 > 0,05 sehingga Tingkat Pendidikan secara parsial berpengaruh tidak signifikan terhadap kepatuhan Wajib Pajak Penghasilan PPh 21 di Surakarta. Maka hipotesis 1 (satu) ditolak.
2) Hasil pengujian menunjukkan bahwa signifikansi Teknologi Informasi 0,021 < 0,05 sehingga Teknologi Informasi secara parsial berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan Wajib Pajak Penghasilan PPh 21 di Surakarta. Maka hipotesis 2 (dua) diterima.
1)    Hasil pengujian menunjukkan bahwa signifikansi Self Assessment System 0,809 > 0,05 sehingga Self Assessment System secara parsial berpengaruh tidak signifikan terhadap kepatuhan Wajib Pajak Penghasilan PPh 21 di Surakarta. Maka hipotesis 3 (tiga) ditolak.
2)    Hasil pengujian menunjukkan bahwa signifikansi Sanksi Perpajakan 0,724 > 0,05 sehingga Sanksi Perpajakan secara parsial berpengaruh tidak signifikan terhadap kepatuhan Wajib Pajak Penghasilan PPh 21 di Surakarta. Maka hipotesis 4 (empat) ditolak.
3)    Hasil pengujian menunjukkan bahwa signifikansi Kepribadian 0,13 < 0,05 sehingga Kepribadian secara parsial berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan Wajib Pajak Penghasilan PPh 21 di Surakarta. maka hipotesis 5 (lima) diterima.
b.    Uji F
Tabel IV.15
Hasil Uji F

Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan diperoleh tingkat signifikansi 0,007 < 0,05. Sehingga dapat disimpulkan secara bersama-sama variabel bebas (tingkat pendidikan, teknologi informasi, self assessment system, sanksi, dan kepribadian) berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan Wajip Pajak Penghasilan PPh 21 di Surakarta.
c.    Koefisien Determinasi R2
Tabel IV.14
Uji Koefisien Determinasi
    
    Nilai koefisien determinasi yang diperoleh 0,677. Nilai ini memberikan arti bahwa tingkat pendidikan, teknologi informasi, penerapan self assessment system, sanksi perpajakan, dan kepribadian memberikan sumbangan pengaruh sebesar 67,7%. Sisanya sebesar 32,3% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak digunakan dalam penelitian ini.
UJI INSTRUMEN PENELITIAN
1.    Uji Validitas
a.    Validitas item pertanyaan untuk variabel Teknologi Informasi (X2)
Variabel Teknologi Informasi terdiri dari 4 item pertanyaan. Pengujian validitas menggunakan teknik one shot methods yaitu dengan membandingkan nilai rhitung dengan nilai rtabel = 0,246 dan didapatkan hasil dari 4 item pertanyaan valid karena mempunyai nilai ritem lebih besar dari nilai rtabel.
b.    Validitas item pertanyaan untuk variabel Self assessment system (X3)
Variabel Self assessment system terdiri dari 5 item pertanyaan. Pengujian validitas menggunakan teknik one shot methods yaitu dengan membandingkan nilai rhitung dengan nilai rtabel = 0,246 dan didapatkan hasil dari 5 item pertanyaan valid karena mempunyai nilai ritem lebih besar dari nilai rtabel.
c.    Validitas item pertanyaan untuk variabel Sanksi perpajakan (X4)
Variabel Sanksi perpajakan terdiri dari 4 item pertanyaan. Pengujian validitas menggunakan teknik one shot methods yaitu dengan membandingkan nilai rhitung dengan nilai rtabel = 0,246 dan didapatkan hasil dari 4 item pertanyaan valid karena mempunyai nilai ritem lebih besar dari nilai rtabel.
d.    Validitas item pertanyaan untuk variabel Kepribadian (X5)
Variabel Kepribadian terdiri dari 5 item pertanyaan. Pengujian validitas menggunakan teknik one shot methods yaitu dengan membandingkan nilai rhitung dengan nilai rtabel = 0,246 dan didapatkan hasil dari 5 item pertanyaan valid karena mempunyai nilai ritem lebih besar dari nilai rtabel.
e.    Validitas item pertanyaan untuk variabel kepatuhan Wajip Pajak (Y)
Variabel kepatuhan Wajip Pajak terdiri dari 5 item pertanyaan. Pengujian validitas menggunakan teknik one shot methods yaitu dengan membandingkan nilai rhitung dengan nilai rtabel = 0,246 dan didapatkan hasil dari 5 item pertanyaan valid karena mempunyai nilai ritem lebih besar dari nilai rtabel.
2.    Uji Reliabilitas
Dari hasil pengujian reliabilitas menunjukkan bahwa koefisien (r) alpha hitung seluruh variabel lebih besar dibandingkan dengan kriteria yang dipersyaratkan atau nilai kritis (rule of tumb) sebesar 0,6 sehingga dapat dikatakan bahwa butir-butir pertanyaan seluruh variabel dalam keadaan reliable.
REGRESI LINIER BERGANDA

1.    Persamaan Pertama
  Y = 7,175   +   0,433 X1 + 0,362 X2 + 0,036 X3  + 0,053 X4  + 0,782 X5
     Sig   (0,038)**    (0,503)    (0,021)**    (0,809)      (0,724)      (0,013)** 
Ket :  
Y    = kepatuhan Wajip Pajak
X1    = Tingkat pendidikan
X2    = Teknologi Informasi
X3    = Self assessment system
X4    = Sanksi perpajakan
X5    = Kepribadian
2.    Uji F
Hasil uji secara serempak (Uji F) pada persamaan kedua diketahui besarnya nilai F = 3,539 signifikansi 0,007 < 0,05. Sehingga dapat disimpulkan secara bersama-sama variabel bebas mempengaruhi kepatuhan Wajip Pajak
3.    Uji t
Dari Uji t pada persamaan dapat disimpulkan bahwa Tingkat pendidikan, Self assessment system, dan  Sanksi perpajakan berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap kepatuhan Wajip Pajak. Hal ini dapat dilihat dari nilai signifikansi variabel > 0,05. Sedangkan untuk variabel Teknologi Informasi dan Kepribadian berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepatuhan Wajip Pajak, hal ini dapat dilihat dari nilai signifikansi masing-masing variabel > 0,05
4.    Koefisien Determinasi
a.    Koefisien Determinasi Persamaan
Uji R2  didapatkan hasil sebesar 0,677
Uji Persyaratan Regresi (Uji Asumsi Klasik)
1.    Uji Normalitas Data
Hasil uji normalitas data dengan menggunakan Kolmogorov-Smirnov Test yang telah dilakukan menunjukan bahwa semua variabel mempunyai distribusi normal karena mempunyai nilai signifikansi sebesar 0,373 > 0,05.
2.    Uji Multikolinieritas
Hasil uji multikolinieritas diketahui besarnya VIF masing-masing variabel lebih kecil dari 10 sehingga dapat disimpulkan tidak terdapat multikolinieritas
3.    Uji Heteroskedastisitas
Model regresi terbebas dari heteroskedastisitas karena mempunyai nilai signifikansi diatas 0,05.
4.    Uji Autokorelasi
Model regresi mempunyai angka DW 1,860 sehingga terbebas dari autokorelasi.
Berdasarkan Tabel 4.2 dapat diketahui bahwa sebagian besar responden berjenis kelamin laki-laki sebesar 57,8%, sisanya 42,2% berjenis kelamin perempuan. Sedangkan dari usianya, sebagian besar responden berusia 21-30 sebanyak 48,4%, berusia 31-40 31,2%, berusia 41-50 sebanyak 15,6%, dan responden berusia lebih dari 50 tahun sebanyak 4,8%. Berdasarkan tingkat pendidikannya dapat diketahui bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat pendidikan terakhir SMA/Sederajat-D3 adalah 46,8% dan 53,2% adalah responden yang memiliki tingkat pendidikan terakhirnya S1-S2.
Tabel IV.2
Deskripsi Responden Keseluruhan
Data Deskriptif    Keterangan    Jumlah    Prosentase
Jenis Kelamin    Laki-Laki    37    57,8%
    Perempuan    27    42,2%
Usia    Antara 21-30 tahun    31    48,4%
    Antara 31-40 tahun    20    31,2%
    Antara 41-50 tahun    10    15,6%
    Lebih dari 50 tahun    3    4,8%
Pendidikan Terakhir    SMA/Sederajat – D3    30    46,8%
    S1 - S2    34    53,2%
Analisa Data dan Pembahasan
1. Uji Instrumen Penelitian
    Uji instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji validitas dan uji reliabilitas. Hasil uji validitas dan uji reliabilitas tersebut adalah sebagai berikut :
c.    Uji Validitas
Pengujian instrumen yaitu pengujian validitas dan reliabilitas perlu dilakukan sebelum analisis data dilakukan.
6)    Validitas item pertanyaan untuk variabel Teknologi Informasi (X2)
    Variabel Teknologi Informasi terdiri dari 4 item pertanyaan. Pengujian validitas menggunakan teknik one shot methods yaitu dengan membandingkan nilai rhitung dengan nilai rtabel = 0,246 dan didapatkan hasil dari 4 item pertanyaan valid karena mempunyai nilai ritem lebih besar dari nilai rtabel.
Tabel IV.3
Hasil Uji Validitas Teknologi Informasi
Item Pertanyaan    rhitung    rtabel    Kesimpulan
X2-1    0,460    0,246    Valid
X2-2    0,597    0,246    Valid
X2-3    0,452    0,246    Valid
X2-4    0,532    0,246    Valid
    Sumber : Data Primer diolah 2013
Hasil uji pada tabel 4.3 diatas menunjukkan validitas item pertanyaan untuk variabel Teknologi Informasi (X2) Variabel Teknologi Informasi terdiri dari 4 (empat) item pertanyaan. Pengujian validitas menggunakan teknik one shot methods yaitu dengan membandingkan nilai rhitung dengan nilai rtabel = 0,246 dan didapatkan hasil dari 4 item pertanyaan valid karena mempunyai nilai ritem lebih besar dari nilai rtabel.
7)    Validitas item pertanyaan untuk variabel Self Assessment System (X3)
Tabel IV.4
Hasil Uji Validitas Self Assessment System
Item Pertanyaan    rhitung    rtabel    Kesimpulan
X3-1    0,381    0,246    Valid
X3-2    0,387    0,246    Valid
X3-3    0,538    0,246    Valid
X3-4    0,374    0,246    Valid
X3-5    0,604    0,246    Valid
    Sumber : Data Primer diolah 2013
Hasil uji pada tabel 4.4 diatas menunjukkan validitas item pertanyaan untuk variabel Self Assessment System (X3) Variabel Self Assessment System terdiri dari 5 (lima) item pertanyaan. Pengujian validitas menggunakan teknik one shot methods yaitu dengan membandingkan nilai rhitung dengan nilai rtabel = 0,246 dan didapatkan hasil dari 5 item pertanyaan valid karena mempunyai nilai ritem lebih besar dari nilai rtabel.
8)    Validitas item pertanyaan untuk variable Sanksi Perpajakan (X4)
Tabel IV.5
Hasil Uji Validitas Sanksi Perpajakan
Item Pertanyaan    rhitung    rtabel    Kesimpulan
X4-1    0,468    0,246    Valid
X4-2    0,358    0,246    Valid
X4-3    0,394    0,246    Valid
X4-4    0,390    0,246    Valid
    Sumber : Data Primer diolah 2013
Hasil uji pada tabel 4.5 diatas menunjukkan validitas item pertanyaan untuk variabel Sanksi Perpajakan (X4) Variabel Sanksi Perpajakan terdiri dari 4 (empat) item pertanyaan. Pengujian validitas menggunakan teknik one shot methods yaitu dengan membandingkan nilai rhitung dengan nilai rtabel = 0,246 dan didapatkan hasil dari 4 item pertanyaan valid karena mempunyai nilai ritem lebih besar dari nilai rtabel.
9)    Validitas item pertanyaan untuk variable Kepribadian (X5)
Tabel IV.6
Hasil Uji Validitas Kepribadian
Item Pertanyaan    rhitung    rtabel    Kesimpulan
X5-1    0,342    0,246    Valid
X5-2    0,365    0,246    Valid
X5-3    0,419    0,246    Valid
X5-4    0,477    0,246    Valid
X5-5    0,361    0,246    Valid
    Sumber : Data Primer diolah 2013
Hasil uji pada tabel 4.6 diatas menunjukkan validitas item pertanyaan untuk variabel Kepribadian (X4) Variabel Self Assessment System terdiri dari 5 (lima) item pertanyaan. Pengujian validitas menggunakan teknik one shot methods yaitu dengan membandingkan nilai rhitung dengan nilai rtabel = 0,246 dan didapatkan hasil dari 5 item pertanyaan valid karena mempunyai nilai ritem lebih besar dari nilai rtabel.
10)    Validitas item pertanyaan untuk variable Kepatuhan Wajib Pajak (Y)
Tabel IV.7
Hasil Uji Validitas Kepatuhan Wajib Pajak
Item Pertanyaan    rhitung    rtabel    Kesimpulan
Y-1    0,445    0,246    Valid
Y-2    0,443    0,246    Valid
Y-3    0,407    0,246    Valid
Y-4    0,531    0,246    Valid
Y-5    0,490    0,246    Valid
    Sumber : Data Primer diolah 2013
Hasil uji pada tabel diatas menunjukkan validitas item pertanyaan untuk variabel Kepatuhan Wajib Pajak (Y) Kepatuhan Wajib Pajak terdiri dari 5 (lima) item pertanyaan. Pengujian validitas menggunakan teknik one shot methods yaitu dengan membandingkan nilai rhitung dengan nilai rtabel = 0,246 dan didapatkan hasil dari 5 item pertanyaan valid karena mempunyai nilai ritem lebih besar dari nilai rtabel.
d.    Uji Reliabilitas
Tabel IV.8
Variabel Penelitian    Alpha Cronbach’s    Kriteria Pengujian    Kesimpulan
Teknologi Informasi (X2)
Self Assessment System (X3)
Sanksi Perpajakan (X4)
Kepribadian (X5)    0,721
0,621
0,734
0,862    0,60
0,60
0,60
0,60    Reliabel
Reliabel
Reliabel
Reliabel
    Sumber : Data Primer diolah 2013
Tabel tersebut menjelaskan bahwa secara keseluruhan variabel penelitian (Teknologi Informasi, Self Assessment System, Sanksi Perpajakan, Sanksi Perpajakan Kepribadian) diyatakan reliabel, karena nilai Alpha Cronbach’s > 0,60
2. Uji Asumsi Klasik
e.    Uji Normalitas
Tabel IV.9
Hasil Uji Normalitas

Hasil uji Kolmogorov-Smirnov dapat dijelaskan bahwa secara keseluruhan variabel yang digunakan dalam penelitian ini (tingkat pendidikan, teknologi informasi, penerapan self assessment system, Sanksi perpajakan, kepribadian, dan kepatuhan Wajib Pajak Penghasilan) mempunyai distribusi normal, karena mempunyai nilai signifikansi sebesar 0,373 > 0,05.
f.    Uji Multikolinieritas
Tabel IV.10
Hasil Uji Multikolinieritas

Uji melalui Variance Inflation Factor (VIF) yang terlihat dalam tabel diatas menunjukkan bahwa masing-masing variabel independen memiliki nilai VIF kurang dari 10 sehingga dapat disimpulkan tidak terdapat multikolinieritas.
g.    Uji Autokorelasi
Tabel IV.11
Hasil Uji Autokorelasi

Hasil uji autokorelasi nilai Durbin-Watson sebesar 1,860 akan dibandingkan dengan nilai tabel dengan menggunakan derajat kepercayaan 5%, jumlah sampel 64 dan jumlah variabel bebas 5, maka di tabel Durbin-Watson akan didapat nilai dL = 1,432 dan dU = 1,767
Hasil DW sebesar 1,860 menunjukkan bahwa tidak ada autokorelasi karena 1,767 < 1,882 < 4-1,767 (2,233).
h.    Uji Heteroskedastisitas
Tabel IV.12
Hasil Uji Hetroskedastisitas

Hasil tersebut dapat diketahui bahwa tidak terjadi heteroskedastisitas karena variabel Tingkat Pendidikan, Teknologi Informasi, Self Assessment System, Sanksi Perpajakan, dan  Kepribadian memiliki nilai signifikan > 0,05.
3. Analisis Regresi Linier Berganda
Tabel IV.13
Hasil Analisis Regresi Linier Berganda

Persamaan regresi linier yang diperoleh dari analisis regresi linier berganda adalah sebagai berikut :
Y= a + b1X1 + b2X2 + b3X3 + b4X4+b5X5+e   
Y = - 0,038   +   0,503 X1 - 0,021 X2 + 0,809 X3 + 0,724 X4 – 0,013 X5 + e
     Berdasarkan persamaan regresi linier berganda diatas dapat diketahui bahwa:
g.    a = -0,038 menunjukan apabila variable tingkat pendidikan, teknologi informasi, Self Assessmen System, sanksi perpajakan, dan kepribadian dianggap Nol, maka kepatuhan wajib pajak akan menurun.
h.    b1 = 0,503, menunjukkan bahwa variable tingkat pendidikan berpengaruh positif terhadap kepatuhan wajib pajak. Apabila tingkat pendidikan meningkat, maka kepatuhan wajib pajak juga akan meningkat, dengan catatan variable lain konstan.
i.    b2 = - 0,021, menunjukkan bahwa variable teknologi informasi berpengaruh negatif terhadap kepatuhan wajib pajak. Apabila teknologi informasi meningkat, maka kepatuhan wajib pajak juga akan menurun, dengan catatan variable lain konstan.
j.    b3 = 0,809, menunjukkan bahwa variable Self Assessmen System berpengaruh positif terhadap kepatuhan wajib pajak. Apabila Self Assessmen System meningkat, maka kepatuhan wajib pajak juga akan meningkat, dengan catatan variable lain konstan.
k.    b4 = 0,724, menunjukkan bahwa variable Sanksi Perpajakan berpengaruh positif terhadap kepatuhan wajib pajak. Apabila Sanksi Perpajakan meningkat, maka kepatuhan wajib pajak akan meningkat, dengan catatan variable lain konstan.
l.       b5 = -0,013, menunjukkan bahwa variable Kepribadian berpengaruh negatif terhadap kepatuhan wajib pajak. Apabila Kepribadian meningkat, maka kepatuhan wajib pajak akan menurun, dengan catatan variable lain konstan.
Uji Hipotesis
Uji t
Tabel IV.14
Hasil Uji t

Hasil analisis yang dapat dijelaskan dari tabel di atas adalah sebagai berikut :1) Hasil pengujian menunjukkan bahwa signifikansi Tingkat Pendidikan 0,503 > 0,05 sehingga Tingkat Pendidikan secara parsial berpengaruh tidak signifikan terhadap kepatuhan Wajib Pajak Penghasilan PPh 21 di Surakarta. Maka hipotesis 1 (satu) ditolak.
2) Hasil pengujian menunjukkan bahwa signifikansi Teknologi Informasi 0,021 < 0,05 sehingga Teknologi Informasi secara parsial berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan Wajib Pajak Penghasilan PPh 21 di Surakarta. Maka hipotesis 2 (dua) diterima.
3) Hasil pengujian menunjukkan bahwa signifikansi Self Assessment System 0,809 > 0,05 sehingga Self Assessment System secara parsial berpengaruh tidak signifikan terhadap kepatuhan Wajib Pajak Penghasilan PPh 21 di Surakarta. Maka hipotesis 3 (tiga) ditolak.
4) Hasil pengujian menunjukkan bahwa signifikansi Sanksi Perpajakan 0,724 > 0,05 sehingga Sanksi Perpajakan secara parsial berpengaruh tidak signifikan terhadap kepatuhan Wajib Pajak Penghasilan PPh 21 di Surakarta. Maka hipotesis 4 (empat) ditolak.
5) Hasil pengujian menunjukkan bahwa signifikansi Kepribadian 0,13 < 0,05 sehingga Kepribadian secara parsial berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan Wajib Pajak Penghasilan PPh 21 di Surakarta. maka hipotesis 5 (lima) diterima.
d.    Uji F
Tabel IV.15
Hasil Uji F

Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan diperoleh tingkat signifikansi 0,007 < 0,05. Sehingga dapat disimpulkan secara bersama-sama variabel bebas (tingkat pendidikan, teknologi informasi, self assessment system, sanksi, dan kepribadian) berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan Wajip Pajak Penghasilan PPh 21 di Surakarta.
e.    Koefisien Determinasi R2
Tabel IV.14
Uji Koefisien Determinasi
    
    Nilai koefisien determinasi yang diperoleh 0,677. Nilai ini memberikan arti bahwa tingkat pendidikan, teknologi informasi, penerapan self assessment system, sanksi perpajakan, dan kepribadian memberikan sumbangan pengaruh sebesar 67,7%. Sisanya sebesar 32,3% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak digunakan dalam penelitian ini.
KESIMPULAN
    Berdasarkan hasil analisis pada bab sebelumnya, maka dapat disimpulkan sebagai berikut : (1) Uji analisis regresi linier berganda menghasilkan adanya pengaruh positif tingkat pendidikan, self assessment system dan sanksi perpajakan serta pengaruh negatif teknologi informasi dan kepribadian terhadap kepatuhan wajib pajak penghasilan pph 21 di surakarta. (2) Uji t memberikan hasil bahwa : (a) Tingkat pendidikan, Self assessment system, dan  Sanksi perpajakan berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap kepatuhan Wajib Pajak, karena nilai signifikansi variabel > 0,05. (b) Variabel Teknologi Informasi dan Kepribadian berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan Wajip Pajak, hal ini dapat dilihat dari nilai signifikansi variabel < 0,05. (3) Berdasarkan hasil analisis uji F diperoleh kesimpulan bahwa secara bersama-sama variabel bebas (tingkat pendidikan, teknologi informasi, self assessment system, sanksi, dan kepribadian) berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan Wajip Pajak Penghasilan PPh 21 di Surakarta. (4) Uji analisis regresi linier berganda menghasilkan adanya pengaruh positif tingkat pendidikan, self assessment system dan sanksi perpajakan serta pengaruh negatif teknologi informasi dan kepribadian terhadap kepatuhan wajib pajak penghasilan pph 21 di surakarta. (5) Uji t memberikan hasil bahwa (a) Tingkat pendidikan, Self assessment system, dan  Sanksi perpajakan berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap kepatuhan Wajib Pajak, karena nilai signifikansi variabel > 0,05.(b) Variabel Teknologi Informasi dan Kepribadian berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan Wajip Pajak, hal ini dapat dilihat dari nilai signifikansi variabel < 0,05. (6) Berdasarkan hasil analisis uji F diperoleh kesimpulan bahwa secara bersama-sama variabel bebas (tingkat pendidikan, teknologi informasi, self assessment system, sanksi, dan kepribadian) berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan Wajip Pajak Penghasilan PPh 21 di Surakarta.(7)  Uji koefisien determinasi memberikan kesimpulan bahwa tingkat pendidikan, teknologi informasi, penerapan self assessment system, sanksi perpajakan, dan kepribadian memberikan sumbangan pengaruh sebesar 67,7%. Sisanya sebesar 32,3% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak digunakan dalam penelitian ini.
SARAN
Berdasarkan hasil dari penelitian ini, maka saran yang dapat diberikan antara lain : (1) Teknologi informasi mempunyai pengaruh lemah, hal ini karena masih banyak masyarakat yang belum mengetahui tentang kemudahan teknologi informasi perpajakan yang diberikan Direktorat Jenderal Pajak kepada masyarakat. Jadi  sebaiknya pemerintah memberikan penyuluhan kepada masyakat tentang kemudahan teknologi informasi dalam menyampaikan laporan perpajakannya.(2) Kepribadian juga mempunyai pengaruh yang lemah atau negatif, hal ini karena, wajib pajak beranggapan bahwa uang pajak banyak yang di salah gunakan oleh oknum-oknum tertentu sehingga kepatuhan wajib pajak menjadi menurun.
DAFTAR PUSTAKA
Amillin. 2009. “Analisis Pengaruh Tingkat Pendidikan dan Jenis Pekerjaan Wajib Pajak Terhadap Motivasi Dalam Memenuhi Kewajiban Pajak”. Jurnal Manajemen Keuangan Vol.7 No.3, Hal : 28-43. UIN Syarif Hidayatullah. Jakarta
Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Rineka Cipta. Jakarta.
Donnelly, Gibson, dan Ivancevich. 1987. Organisasi Edisi 5. Jakarta : Erlangga
Djarwanto. 2003. Mengenal Berbagai Uji Statistik Dalam Penelitian. Liberty. Yogyakarta.
Ghozali, Imam. 2005. Analisis Multivariant dengan Program SPSS. Badan Penerbit Universitas Diponegoro. Semarang.
Kartikasari, Novi Dian. 2010. “Pengaruh Tingkat Pendidikan, Teknologi Informasi dan Penerapan Self Assessment System Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak PPH Pasal 21 di Surakarta”. Skripsi STIE-AUB Surakarta.
Kusumawati, Indra dan Tarjo. 2006. “Analisis Perilaku Wajib Pajak Orang Pribadi Terhadap Pelaksaan Self Assesment System di Bangkalan”. Jurnal Vol.10 No. 1 Hal: 101-120. Universitas Trunojoyo.
Mardiasmo. 1999. Perpajakan Edisi 7. Yogyakarta : Andi Yogyakarta
Maulana, Mohammad Irfan. Peranan Teknologi Informasi Dalam Meningkatkan Kepatuhan ( Studi Kasis di PT.Jasa Marga ). Artikel Ilmiah. STIE – PERBANAS Surabaya
Nugroho, Cahyo Adhi. 2009. “Pengaruh Proses Belajar, Motivasi, dan Kepribadian Terhadap Persepsi Wajip Pajak Orang Pribadi Mengenai Pelaksanaan Self Assessment System. Skripsi STIE – AUB Surakarta.
Nugroho, Agus. 2006. Pengaruh Sikap Wajib Pajak pada Pelaksanaan Sanksi Denda, Pelayanan Fiskus dan Kesadaran Perpajakan terhadap Kepatuhan Wajib Pajak (Studi Empiris terhadap Wajib Pajak Orang Pribadi di Kota Semarang). Tesis Magister Akuntansi Program Pascasarjana Universitas Diponegoro.
Sugiyono. 2008. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta
Waluyo. 2008. Perpajakan Indonesia. Jakarta : Salemba Empat
Waluyo. 2011. Perpajakan Indonesia Edisi 10. Jakarta : Salemba Empat
Winarti, Tri. 2010. “Faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan wajib pajak daerah dalam melaksanakan kewajiban pajak di Surakarta”. Skripsi STIE-AUB Surakarta
Diberdayakan oleh Blogger.

 

© 2013 Info Oke. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top